Sakit Hati
Kamis, 17 September 2020
Mazmur 31: 10-11
Seorang guru membawa sekeranjang kentang ke dalam kelas. Setiap anak diminta untuk mengambil kentang sesuai dengan jumlah orang yang membuat mereka sakit hati, satu kentang mewakili satu orang. “Bawalah kentang itu kemanapun kalian pergi; ke sekolah, ke gereja, mandi, tidur, bermain. Pokoknya jangan dilepas. Sampai minggu depan,” perintah sang guru. Seminggu kemudian sang guru bertanya, “bagaimana perasaan kalian dengan kentang-kentang itu?”. Para murid komplain. Ada yang bilang bikin repot, berbau tidak sedap karena busuk. Pokoknya semua murid sangat terganggu dengan kentang-kentang itu. Gurunya berkata, “begitulah juga kalau kita terus memendam rasa sakit hati. Kita sendiri yang tidak enak, seperti membawa kentang-kentang itu. Kita sendiri yang akan repot dan rugi”.
Pernah dibuat kesal sama seseorang? Pernah merasakan sakit hati? Dikecewakan? Amarah yang sampai ke ubun-ubun? Tanda-tanda jika masih sakit
hati dapat dilihat dari sikap yang mengingat-ingat dan selalu menceritakan tentang bagaimana orang itu menyakiti hatinya, menghitung-hitung kesalahan, masih diliputi kebencian dan dendam. Memang sulit untuk keluar dari perasaan itu. Tetapi pada saat orang dapat merasakan dan percaya kepada kasih kemurahan Tuhan Allah kepada dirinya, maka upaya untuk mau sembuh dari sakit hati dengan mengampuni akan bisa terwujud.
Hal mengampuni tidak dapat dihitung berapa kali karena mengampuni adalah cara hidup, harus terus dilakukan di sepanjang kehidupan. Seperti halnya Tuhan Allah yang tidak pernah berhenti mengampuni manusia, Tuhan Allah selalu terbuka dan melimpahkan pengampunan bagi kita semua. Menyembuhkan sakit hati itu tidak mudah, mengampuni itu sulit, apalagi jika kita masih merasa sebagai yang paling benar dan yang paling disakiti, tetapi mengampuni itu memerdekakan dan membuat kelegaan, seperti membuang kentang busuk yang kita bawa.
Tetap jaga kesehatan jiwa dan raga.
Tuhan memberkati.





