Sejarah

Jejak Iman & Perjalanan Gereja

Sejarah & Perjalanan GKJ Rewulu

Menelusuri jejak karya keselamatan Tuhan melalui perintisan pekabaran Injil sejak tahun 1918 hingga bertumbuh menjadi persekutuan jemaat yang berbuah dan memberkati.

  • 12 Tonggak Sejarah

Perjalanan Iman & Pelayanan

60 Tahun Lebih GKJ Rewulu

Rangkaian tonggak sejarah penting berdirinya GKJ Rewulu sejak pekabaran Injil pertama tahun 1918 hingga perkembangan pepanthan dan masa kini.

  1. TAHUN 1918

    Pekabaran Injil Perdana

    T. Thomas Vandervein (sinder Pabrik Gula Rewulu) mulai mengabarkan Injil kepada para buruh pabrik, dilanjutkan oleh Pdt. Domune Peter Aanlar dan melahirkan embrio jemaat perdana.

  2. TAHUN 1920

    Pembinaan GKJ Gondokusuman

    GKJ Gondokusuman mengutus Guru Injil Bapak Cokro Atmodjo. Pelayanan bertumbuh pesat dengan pendekatan seni budaya lokal seperti wayang, karawitan, dan tarian.

  3. TAHUN 1927

    Pendirian Gedung Ibadah Bambu

    Jemaat mendirikan tempat peribadatan sederhana berdinding bambu di Dusun Gancahan V sebagai pusat persekutuan bersama.

  4. TAHUN 1929

    Pembangunan "Gereja Sawo"

    Gedung ibadah direnovasi menjadi bangunan permanen bertembok. Dikenal masyarakat luas sebagai "Gereja Sawo" karena terdapat pohon sawo besar di depannya.

  5. TAHUN 1946

    Status Pepanthan GKJ Ngento-ento

    Dengan sekitar 50 warga, jemaat Rewulu ditetapkan sebagai Pepanthan dari GKJ Ngento-ento, dilayani majelis pertama Bpk. Kerto Wiharjo dan Bpk. Wijo Sudarmo.

  6. TAHUN 1953

    Pembangunan Gedung Gereja Induk

    Peletakan tonggak pembangunan gedung gereja baru di sebelah barat gedung lama, yang hingga saat ini menjadi lokasi Gedung Gereja Induk GKJ Rewulu.

  7. TAHUN 1960

    Pendewasaan Menjadi GKJ Rewulu

    Tepat 31 Januari 1960, Pepanthan Rewulu resmi didewasakan menjadi GKJ Rewulu mandiri dengan 150 jemaat. Nama "Rewulu" dipertahankan karena nilai historisnya yang kuat.

  8. TAHUN 1972

    Penahbisan Pendeta Philipus Hartono

    Kebaktian penahbisan Pdt. Philipus Hartono, Sm.Th. melayani 315 warga jemaat, disusul perintisan pos-pos pepanthan di wilayah Sumber Gamol (1972) dan Godean (1978).

  9. TAHUN 1989

    Renovasi Besar & Ibadah Tiga Sesi

    Renovasi besar gedung gereja induk selesai. Sejak 16 Juni 1989, ibadah Minggu dilaksanakan 3 sesi (Bahasa Indonesia & Bahasa Jawa) untuk menampung pertumbuhan jemaat.

  10. TAHUN 2018

    Penahbisan Dua Pendeta Jemaat

    Penahbisan Pdt. Hesty Murwasari dan Pdt. Elizabet Emilia Putri setelah masa pembimbingan peremtoir guna memperluas jangkauan penggembalaan jemaat.

  11. TAHUN 2023

    Pendewasaan GKJ Gamping

    3 Desember 2023, ketika Pepanthan Gamping didewasakan menjadi GKJ Gamping dengan jumlah jemaat sebanyak 220 orang. Wilayah Jatisawit turut menjadi bagian dari GKJ Gamping. Pada saat itu, Pdt. Elizabet Emilia Putri melayani sebagai pendeta di GKJ Gamping.

  12. MASA Sekarang

    GKJ Rewulu Masa Kini

    Menapaki perjalanan lebih dari 60 tahun, GKJ Rewulu kini menaungi 1 Gedung Gereja Induk, 3 Pepanthan (Sumber Gamol, Godean, Gancahan VIII), dan 8 Wilayah Pelayanan dengan 1.660+ warga jemaat. Terus bertumbuh dalam persekutuan iman yang bersatu, menguatkan pembinaan generasi muda, serta melayani dengan kasih Kristus bagi masyarakat.

Sejarah GKJ Rewulu bermula dari keberadaan pabrik gula di wilayah Rewulu pada awal abad ke-20. Di lingkungan pabrik tersebut tinggal beberapa orang Belanda, salah satunya T. Thomas Vandervein yang bertugas sebagai sinder. Sejak tahun 1918, T. Thomas Vandervein mulai mengabarkan Injil di wilayah tersebut. Namun, setelah istrinya meninggal dunia, intensitas pelayanan mengalami penurunan. Pelayanan pekabaran Injil kemudian dilanjutkan oleh Pdt. Domune Peter Aanlar.

Dari pekabaran Injil tersebut, terbentuklah sebuah kelompok kecil yang menjadi cikal bakal jemaat GKJ Rewulu. Kelompok ini terdiri atas Bapak Kerto Wiharjo, Bapak Mangun Pawiro, Bapak Wijo Sudarmo, Bapak Karyodiyono, Bapak Senuk, Mbok Taruna Jaya, Bapak Wiro Dikromo, dan Bapak Wongso Darmo. Mereka menjadi perintis pertumbuhan jemaat di wilayah Rewulu.

Setelah pabrik gula mengalami kebangkrutan, pembinaan terhadap kelompok tersebut dilanjutkan oleh GKJ Gondokusuman. Pada tahun 1920, GKJ Gondokusuman mengutus Bapak Cokro Atmodjo sebagai Guru Injil untuk melayani di wilayah Rewulu.

Perintisan dan Pertumbuhan Jemaat

Pada masa awal, jemaat melaksanakan ibadah di rumah-rumah warga, termasuk di rumah Tn. Thomas yang berlokasi di Dusun Pirak Bulus, Sidomulyo, Godean. Seiring dengan bertambahnya jumlah jemaat, pada tahun 1927 didirikan sebuah bangunan gereja sederhana berdinding bambu di Dusun Gancahan V. Dua tahun kemudian, bangunan tersebut direnovasi menjadi bangunan permanen. Karena di lingkungan gereja terdapat pohon sawo, gereja ini kemudian dikenal dengan sebutan Gereja Sawo.

Pada tahun 1939, pelayanan dilanjutkan oleh Bapak Adam Thomas dari GKJ Wonosari. Ia diutus untuk menggantikan Bapak Cokro Atmodjo yang berpindah pelayanan ke GKJ Wates. Pertumbuhan jemaat pada masa itu tidak terlepas dari peran sekolah Kristen Zending Vervolk School, yang kini dikenal sebagai BOPKRI. Keberadaan sekolah tersebut turut mendukung pertumbuhan iman dan pendidikan jemaat.

Pada tahun 1946, jumlah warga jemaat telah mencapai sekitar 50 orang. Perkembangan ini menjadi dasar penetapan jemaat Rewulu sebagai pepanthan dari GKJ Ngento-ento. Majelis pertama yang melayani adalah Bapak Kerto Wiharjo dan Bapak Wijo Sudarmo.

Tahun 1953 menjadi tonggak penting dalam perkembangan GKJ Rewulu dengan dibangunnya gedung gereja di sebelah barat bangunan sebelumnya. Lokasi tersebut hingga kini tetap menjadi tempat berdirinya gereja induk GKJ Rewulu.

Pelayanan Bapak Adam Thomas berlangsung hingga tahun 1957, kemudian dilanjutkan oleh Bapak Sulam Sungkono sampai tahun 1960.

Pendewasaan Menjadi GKJ Rewulu

Tanggal 31 Januari 1960 menjadi tonggak sejarah ketika Pepanthan Rewulu didewasakan menjadi GKJ Rewulu dengan jumlah warga sekitar 150 orang. Pada saat itu, wilayah pepanthan yang tergabung meliputi Sedayu, Gamping, Godean, Sumber Gamol, dan Sungapan.

Nama “Rewulu” tetap dipertahankan karena telah melekat sejak awal pertumbuhan jemaat, meskipun secara administratif gereja berada di wilayah Gancahan V.

Pdt. Siswondo menjadi pendeta pertama GKJ Rewulu dan melayani pada periode 1964–1969 sebelum melanjutkan pelayanan di GKJ Karanganyar. Setelah masa pelayanannya berakhir, GKJ Rewulu dilayani oleh pendeta konsulen dari GKJ Ngento-ento hingga tahun 1972.

Pada tanggal 23 Maret 1972, dilaksanakan kebaktian penahbisan Pdt. Philipus Hartono, Sm. Th. yang dilayani oleh Pdt. Tirtosoewarno. Pada saat itu, jumlah warga jemaat tercatat sebanyak 196 orang dewasa dan 119 anak, dengan dukungan pelayanan dari 19 orang majelis.

Perkembangan Pepanthan

Seiring dengan pertumbuhan jemaat, pelayanan GKJ Rewulu semakin meluas melalui pembentukan dan perkembangan sejumlah pepanthan.

Pepanthan Gamping

Jemaat di wilayah Gamping, yang meliputi Ambarketawang, Pedukuhan Sumber, dan Balecatur, mulai melaksanakan ibadah pada tahun 1966 di rumah Bapak Hadi Prasetyo. Seiring dengan perkembangan jemaat, wilayah ini akhirnya memiliki gedung gereja sendiri pada tahun 1984.

Pepanthan Sumber Gamol

Pepanthan Sumber memulai ibadah pada tanggal 31 Oktober 1972 di rumah Ibu Resodikromo. Pelayanan pada masa awal ini didukung oleh majelis Bapak Atmoadi dan Bapak Sisworujito.

Pepanthan Godean

Pepanthan Godean memulai ibadah pada tanggal 31 Oktober 1978 di rumah Bapak Slamet HS. Setelah melalui perjalanan pelayanan yang panjang, jemaat akhirnya menempati gedung gereja permanen pada tanggal 25 Desember 1995.

Pepanthan Jatisawit

Pepanthan Jatisawit mengadakan ibadah perdana pada tanggal 12 Januari 1997 di rumah Bapak C. Yato. Pelayanan pada masa awal ini didukung oleh majelis Bapak Priyo Dwi D dan Bapak C. Yato.

Renovasi Gedung dan Perluasan Pelayanan

Pertumbuhan jumlah jemaat mendorong dilakukannya renovasi gedung gereja pada tahun 1988–1989. Sejak Minggu, 16 Juni 1989, ibadah dilaksanakan tiga kali setiap hari Minggu, yaitu pukul 07.00 WIB dalam Bahasa Indonesia, pukul 08.30 WIB, dan pukul 18.00 WIB dalam Bahasa Jawa.

Luasnya wilayah pelayanan kemudian menjadi salah satu pertimbangan untuk mendewasakan Pepanthan Sedayu bersama Pepanthan Sengon, Kaliurang, dan Sungapan menjadi GKJ Sedayu pada tanggal 31 Oktober 1990.

Perkembangan Pelayanan pada Periode Modern

Memasuki periode modern, pelayanan GKJ Rewulu terus berkembang. Pada tanggal 9 November 2003, dilaksanakan Ibadah Perjamuan Sulung di Pepanthan Gancahan VIII oleh Pdt. Wiji Santosa. Peristiwa ini menjadi awal pelayanan di wilayah tersebut.

Pada tanggal 7 Juli 2005, dilaksanakan peneguhan dan penahbisan Pdt. Samuel Priyadi, S. Si., sekaligus emiritasi Pdt. Philipus Hartono, Sm. Th.

Setelah tahun 2010, pelayanan GKJ Rewulu kembali ditopang oleh pendeta konsulen, yaitu Pdt. Agung Budiarta, S. Th. dari GKJ Kebon Agung, yang melayani hingga tahun 2013.

Sidang Istimewa Klasis Yogyakarta Barat pada tanggal 8 Desember 2012 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan pelayanan GKJ Rewulu. Proses tersebut mengantarkan pada peneguhan Pdt. Kus Aprianto, S. Si., yang kemudian melayani sejak tanggal 24 Januari 2013 hingga tahun 2018.

Kebutuhan pelayanan yang semakin berkembang mendorong GKJ Rewulu melakukan pemanggilan pendeta baru pada tahun 2016. Melalui proses tersebut, terpilih Hesty Murwasari dan Elizabet Emilia Putri. Setelah menjalani pembimbingan dan ujian peremtoir pada tanggal 25 Februari 2017, keduanya ditahbiskan sebagai pendeta GKJ Rewulu pada tanggal 3 Februari 2018.

Data Materi Sidang Majelis Terbuka tahun 2020 mencatat jumlah warga jemaat sebanyak 1.454 orang. Wilayah pelayanan GKJ Rewulu saat itu meliputi gereja induk dan beberapa pepanthan yang tersebar di Kecamatan Godean, Gamping, dan Moyudan.

Pendewasaan GKJ Gamping dan Penataan Wilayah Pelayanan

Perkembangan signifikan kembali terjadi pada tanggal 3 Desember 2023, ketika Pepanthan Gamping didewasakan menjadi GKJ Gamping dengan jumlah jemaat sebanyak 220 orang. Wilayah Jatisawit turut menjadi bagian dari GKJ Gamping. Pada saat itu, Pdt. Elizabet Emilia Putri melayani sebagai pendeta di GKJ Gamping.

Pendewasaan tersebut membawa perubahan dalam struktur dan cakupan wilayah pelayanan GKJ Rewulu. Saat ini, GKJ Rewulu terdiri atas satu gereja induk dan tiga pepanthan, yaitu Pepanthan Gancahan VIII, Pepanthan Godean, dan Pepanthan Sumber Gamol.

Wilayah pelayanan gereja induk meliputi Brintik–Rewulu Kulon, Dukuh–Nogosari, Gancahan V, Gancahan VI, Menulis, Sembuh Kidul, Sembuh Lor, dan Sembuh Wetan. Jumlah warga jemaat GKJ Rewulu saat ini tercatat sebanyak 1.662 orang.

Pelayanan GKJ Rewulu kini ditopang oleh satu pendeta aktif, yaitu Pdt. Hesty Murwasari, serta satu pendeta emeritus, yaitu Pdt. Philipus Hartono, bersama 52 orang majelis yang turut mengambil bagian dalam pelayanan gereja.

GKJ Rewulu: Bertumbuh dan Menjadi Berkat

Perjalanan panjang GKJ Rewulu merupakan kesaksian tentang karya Tuhan yang terus berlangsung melalui pekabaran Injil, pertumbuhan jemaat, perkembangan pelayanan, dan pembentukan generasi pelayan yang baru.

Berawal dari sebuah kelompok kecil di sekitar pabrik gula Rewulu, GKJ Rewulu terus bertumbuh menjadi persekutuan orang percaya yang melayani di tengah masyarakat. Berbagai perubahan dan perkembangan yang terjadi sepanjang sejarahnya menjadi bagian dari proses pendewasaan gereja dalam menjalankan panggilan iman.

Dengan semangat untuk terus bertumbuh secara holistik, GKJ Rewulu berkomitmen mengembangkan kehidupan iman, memperkuat pelayanan, serta menghadirkan kesaksian nyata melalui tindakan kasih. Dengan demikian, GKJ Rewulu diharapkan senantiasa menjadi berkat bagi seluruh jemaat dan masyarakat luas.