Warta Gereja • Renungan • Kegiatan

GKJ Rewulu
Renungan GKJ Rewulu

MERESPON BEKAL ILAHI

Yesaya 51:16

Aku menaruh firman-Ku ke dalam mulutmu dan menyembunyikan engkau dalam naungan tangan-Ku, supaya Aku kembali membentangkan langit dan meletakkan dasar bumi, dan berkata kepada Sion: Engkau adalah umat-Ku!

Sebagai seorang anak, saya merasa bahwa doa restu dari orang tua sangatlah berharga. Doa restu saya ibaratkan sebagai sebuah bekal yang indah dan berharga. Berbicara mengenai bekal, saya teringat kembali masa-masa ketika saya masih berada dalam bangku sekolah (SD-SMA), di mana Alm. Ibu saya cukup sering menyiapkan bekal kepada saya (salah satu alasannya supaya saya bisa lebih _*ngirit*_). Ketika saya membawa bekal yang sudah disiapkan oleh Alm. Ibu, saya merasa lebih nyaman, bahagia, lega karena uang jajan saya bisa utuh dan akhirnya bisa ditabung (yaaa, walaupun jika boleh jujur masakan ibu saya lebih enak daripada masakan di tempat saya biasanya jajan). Namun bekal itu sendiri tidak selalu berwujud makanan saja, namun saya merasa bahwa doa restu ternyata juga merupakan bekal yang indah dan berharga. Doa restu yang dinyatakan oleh orang tua kepada anak-anaknya merupakan bentuk bekal yang menguatkan dan meneguhkan sang anak, dalam mewujudnyatakan tugas dan tanggung jawabnya.

Bekal itu sendiri setidaknya juga dimiliki oleh umat Israel semasa mereka berada dalam masa pembuangan di Babel. Bacaan kita di pagi hari ini menjelaskan kepada kita bahwasanya wujud cinta dan kesetian Allah kepada umat Israel itu sungguhlah nyata. Di tengah keterpurukan iman dan harapan yang padam, merasa lelah karena hukuman yang harus umat Israel lalui, Allah senatiasa menyertai mereka bahkan memberikan penghiburan dan pengharapan kepada mereka. Allah pun membekali mereka dengan _*firman dalam mulut mereka dan menyembunyikan mereka dalam naungan tanganNya*_ (ay. 16a). Setidaknya, inilah wujud dari bekal yang Allah sediakan bagi umat Israel pada masa itu, di mana Ia tidak pernah sekalipun lupa dan meninggalkan umatNya. Bekal inilah yang menjadi bukti bahwa Ia senantiasa menyertai, baik dalam kondisi pelik sekalipun.

Pembelajaran yang dapat kita terima saat ini, ingin mengarahkan kepada kita untuk dapat merespon setiap bekal yang sudah disajikan oleh Tuhan melalui perwujudan laku hidup kita. Sama halnya dengan bekal yang diberikan oleh orang tua kita, salah satunya adalah doa restu. Ketika kita dapat merespon doa restu itu dengan penuh rasa syukur, maka kita akan merasakan bahwa cinta Allah melalui orang tua kita senantiasa menguatkan kita dan mengiringi kita untuk senantiasa tegar dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab hidup kita. Kiranya Tuhan senantiasa memampukan kita semua. Berkah Dalem. Amin.

Tinggalkan Balasan