TANPA EMBEL-EMBEL
Selasa, 25 Januari 2022
Lukas 18 : 11 – 14
Berbuat baik adalah salah satu tugas dalam hidup manusia. Semua agama mengajarkannya. Semua pendidik menganjurkannya. Para orang tua menasihatkan kepada anak-anaknya. Bahkan hati nurani kebanyakan orangpun membisikkan pesannya. Sebenarnya kaum Farisipun adalah orang-orang yang tahu berbuat baik. Sangat tahu. Bahkan mereka melakukan kewajiban-kewajiban agama dengan rajin. Masalahnya, mereka melakukan kebaikan itu disertai dengan embel-embel menikmati kenyataan bahwa orang lain tidak melakukannya, atau, setidaknya, tidak melakukan sebaik (menurut anggapan) mereka. Itulah yang di mata Tuhan Yesus merupakan kekeliruan. Tuhan menasihati melalui perumpamaan yang mengisahkan orang Farisi sedang menghadap Tuhan tetapi masih saja sempat menengok ke arah pemungut cukai, lalu menonjolkan kebaikan-kebaikannya dibanding dengan para pemungut cukai.
Dunia ini memang terkadang aneh. Berbuat baikpun dijadikan ajang pembuktian siapa yang lebih baik. Malahan ada yang berbuat baik dengan diikuti dengan embel-embel untuk membuat orang lain tampak jelek. Padahal Tuhan tak pernah memaksudkannya begitu. Berbuat baik tidak memerlukan pembenaran dari kejelekan orang lain. Tuhan melihat. Sesama merasakan. Berbuat baik, ya berbuat baik saja. Titik. Amin
Semangat berbuat baik!
Tetap setia taati prokes
Tuhan memberkati





