SHALOM
Matius 5:9
“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut sebagai anak-anak Allah”
Kita seringkali mengatakan shalom sebagai bentuk ucapan salam ketika berjumpa dengan orang lain. Namun tahukah kita apa arti shalom? Shalom berasal dari bahasa Ibrani *(שָׁלוֹם)* yang memiliki arti damai sejahtera, dimana dalam bahasa Yunani menggunakan kata eirene *(Εἰρήνη)*. Shalom sendiri didefinisikan sebagai suatu keutuhan, ada tindakan aktif untuk melakukan segala sesuatu yang terbaik dan bukan hanya dalam artian menjauhkan diri dari segala sesuatu yang buruk. Dalam pengertian orang Yahudi, shalom sendiri hanya berasal dari Allah, sehingga dapat diartikan sebagai “damai sejahtera Allah menyertai engkau”.
Mengapa Yesus berucap kata “membawa damai”? sebab dunia penuh dengan kerusuhan, perselisihan, kekacauan, hilangnya ketenangan, ketentraman, keamanan baik dalam diri (hati) maupun kaitannya dengan luar diri (tindakan). Dalam konteks dunia yang penuh perselisihan tersebut, orang-orang yang bisa membawa/menghadirkan damai akan disebut sebagai anak-anak Allah (sebab Allah adalah sang sumber damai itu sendiri).
Ucapan berbahagialah orang yang membawa damai mengandung maksud bahwa, seseorang yang telah memiliki damai dari Allah, perlu menyebarkan damai tersebut kepada orang lain. Dalam hal ini berarti *kita sebagai orang-orang percaya dipilih Allah untuk dipakai menyebarkan damai yang dari Allah* tersebut. Membawa damai bukan hanya dalam artian kita menyebarkan damai saja, namun kitapun harus menjadi pelaku damai (berasal dari hati, melakukan tindakan yang sesuai dengan kehendak Tuhan atau apa yang Tuhan perintahkan), dampaknya akan merasa aman, tenang, tentram.
Saat ini kita diberikan kesempatan untuk berefleksi, kita sering mengucap kata shalom, namun sudahkah kita memiliki damai di hati kita? sudahkah kita menyebarkan damai yang dari Allah tersebut?
Selamat berefleksi, selamat beraksi, Gusti mberkahi.





