Warta Gereja • Renungan • Kegiatan

GKJ Rewulu
Renungan GKJ Rewulu

SETIALAH, TUHAN BESERTA KITA!

Yeremia 20: 11

Tetapi TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka akan menjadi malu sekali, sebab mereka tidak berhasil, suatu noda yang selama-lamanya tidak terlupakan!

Mungkin hampir setiap orang menginginkan untuk memiliki hidup bahagia, tanpa adanya satu pun masalah. Namun apakah kenyataannya seperti itu? Nyatanya tidak! Realita berkata lain, bahwasanya hidup itu tidak selalu bahagia saja, melainkan ada juga kesedihan. Terkadang kesedihan itu muncul ketika setiap orang diperhadapkan dengan suatu permasalahan dan kesulitan. Lantas, bagaimana kita merespon setiap permasalahan tersebut?

Dalam bacaan perenungan kita saat ini, kita dapat belajar dari pribadi Nabi Yeremia dalam merespon masalah yang ia hadapi. Ia selaku nabi diperhadapkan dengan realita yang pahit, di mana ia justru dibenci oleh bangsanya sendiri (Bangsa Israel) karena harus menyampaikan nubuatan mengenai hukuman yang akan Allah berikan karena kedegilan umat Israel. Nabi Yeremia justru menjadi musuh dari bangsanya sendiri! Di satu sisi, ia dengan setia menyampaikan pesan Allah itu kepada umat sebagai bentuk peringatan supaya umat Israel bersedia bertobat dan kembali kepada Allah. Namun apa yang didapatkan Nabi Yeremia? Ia justru mendapatkan olok-olokan (ayat 7), merasakan kekerasan fisik bahkan harus dipasung layaknya tawanan (ayat 2). Lantas, bagaimana respon Nabi Yeremia atas kejadian pahit yang menimpanya? Ia merasa dilema, bahkan dalam keluh kesahnya ia merasa bahwa Allah yang sudah memilihnya, justru membiarkannya masuk pada kondisi pelik, bahkan mendapatkan ancaman pembunuhan. Hal ini mungkin menjadi titik terendah Nabi Yeremia, terkhususnya ketika dengan sadarnya ia mengutukui kelahirannya (ayat 14). Namun, dibalik kekecewaan Nabi Yeremia, membuatnya tidak bisa berpaling dari belas kasih Allah, yang menyadarkannya bahwa ia tidak berjalan sendiri. Belas kasih Allah yang memampukan dan menggerakkannya untuk kembali melanjutkan pekerjaan kasih yang sudah dipercayakan kepadanya!

Merasa dilema itu pasti! Di satu sisi, Tuhan sudah menghendaki supaya pekerjaan yang dipercayakan kepada kita bisa diwujudkan, namun respon dan hasil akhirnya belum tentu sesuai dengan ekspektasi kita. Namun dari kisah Nabi Yeremia ini, kita diajarkan untuk berserah penuh kepada tuntunan Tuhan, membiarkan pikiran dan hati kita untuk senantiasa terarah pada belas kasihNya. Hal ini mengarahkan kita bahwasanya janji Tuhan itu nyata adanya yakni *tak akan pernah meninggalkan kita sendirian, karena Ia senantiasa beserta!* Hal ini juga dinyatakan oleh Nabi Yeremia di ayat 11, bahwa Allah menyertainya seperti pahlawan yang gagah! Kiranya belas kasihNya memampukan kita untuk tetap setia menapaki kehidupan. Berkah Dalem, Amin 

Tinggalkan Balasan