POHON PISANG
Selasa, 27 September 2022
Lukas 16 : 24 – 25
Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.
Kalau kita hanya membaca sepintas Lukas ini, mungkin terbersit di hati kita kalau Abraham dan Lazarus termasuk orang yang pelit. Orang kaya itu tidak meminta air satu galon, ia hanya meminta mencelupkan ujung jari Lazarus ke air dan kemudian diteteskan pada lidahnya. Paling hanya ada beberapa tetes air saja. Tapi bahkan air yang hanya beberapa tetes ini tidak diberikan oleh Abraham dan Lazarus. Alasannya bukanlah karena mereka pelit & tidak memiliki hati, tapi karena orang kaya dan Lazarus sudah berada di tempat yang berbeda. Tempat yang dihasilkan dari buah perbuatan mereka di dunia. Sewaktu di dunia orang kaya itu tidak punya hati untuk memperhatikan dan menolong Lazarus yang berbaring di dekat pintu rumahnya. Dia sibuk menyenangkan dirinya dan melupakan orang di sekitarnya. Dan di alam maut ia menerima akibat perbuatannya.
Ada pepatah Jawa yang mengatakan *uripmu aja kaya wit gedhang, duwe jantung nanging ora duwe ati*. Hidup jangan seperti pohon pisang, punya jantung tapi tidak punya hati. Hal ini menggambarkan bahwa jangan sampai kita hidup seperti pohon pisang yang punya jantung tetapi tidak punya hati. Maksudnya kita hidup, punya jantung, tapi kita tidak punya perasaan, welas asih. Lihatlah di sekeliling kita mungkin ada Lazarus-Lazarus yang perlu kita perhatikan. Ingatlah, bahwa Allah menuntun kita untuk menjadi orang yang memiliki hati, berperasaan, dan peduli. *Uripmu aja kaya wit gedhang, duwe jantung nanging ora duwe ati*. Amin.
Selamat beraktivitas
Tuhan memberkati





