Mau Jadi Orang Bodoh?
Amsal 9:1-6
“Hikmat telah mendirikan rumahnya, menegakkan ketujuh tiangnya, memotong ternak sembelihannya, mencampur anggurnya, dan menyediakan hidangannya. Pelayan-pelayan perempuan telah disuruhnya berseru-seru di atas tempat-tempat yang tinggi di kota: “Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari”; dan kepada yang tidak berakal budi katanya: “Marilah, makanlah rotiku, dan minumlah anggur yang telah kucampur; buanglah kebodohan, maka kamu akan hidup, dan ikutilah jalan pengertian.”
Hidup adalah sebuah pilihan. Sepanjang kehidupan kita tak henti-hentinya harus memilih. Memilih cara hidup, cara berpikir, cara bersikap, cara bertindak dan sebagainya. Namun pada intinya ada dua pilihan utama menurut penulis Amsal, yaitu berupaya menjadi orang yang berhikmat atau membiarkan diri menjadi orang bebal. Penulis Amsal mengandaikan hikmat seperti seorang yang sedang mendirikan rumahnya dan menegakkan ketujuh tiangnya (biasanya empat tiang di setiap sudut dan tiga tiang di setiap tengah ketiga sisi sehingga meninggalkan satu sisi untuk pintu masuk utama). Rupanya ia sedang menyiapkan sebuah pesta penyambutan. Diundangnya semua orang yang merasa kurang berpengalaman, yaitu yang rendah hati dan mau terus belajar, untuk datang ke rumah Tuhan.
Tak kalah menarik untuk memahami betapa respons orang terhadap tawaran hikmat bisa berbeda. Si pencemooh tak menyukai bahkan menolak didikan dan teguran. Tetapi orang yang bijak akan dengan senang hati belajar dari berbagai nasihat bahkan kritik yang pedas sekalipun. Sebagai “puncak” nya penulis Amsal ingin mengingatkan kita semua, bahwa hikmat ilahi (untuk membedakan dengan hikmat dunia) hanya bisa kita mulai peroleh apabila kita memiliki sikap hati yang “takut akan Tuhan”.
Bagi yang memilih untuk menerima undangan hikmat, maka hidupnya akan diberkati sedangkan bagi yang lebih memilih undangan kebodohan akan menanggung sendiri segala akibatnya. Mana yang kita pilih akan sangat menentukan masa depan kita. Berhati-hatilah sebab kebodohan juga bisa membuat undangan yang tak kalah menariknya. Buatlah pilihan yang tepat dengan hanya memilih undangan Sang Hikmat dan menolak undangan kebodohan. Selamat menentukan pilihan yang tepat dan selamat berhikmat, jangan mau menjadi orang yang jatuh dalam kebodohan. Tuhan memberkati kita. Amin.





