Layakkah Engkau Marah?
Selasa, 22 September 2020
Yunus 4: 1-11
Ketika pemahaman kita dengan pemahaman Tuhan berbeda, pernahkah kita marah kepada Tuhan? Dalam bacaan hari ini, diceritakan bagaimana Yunus marah kepada Tuhan. Yunus lebih suka jika Niniwe binasa. Yunus iri terhadap kebaikan Allah kepada Niniwe, ibu kota Asyur, musuh Israel itu. Yunus lupa bahwa Tuhan telah berbelas kasihan kepadanya dan bahwa ia dan orang-orang Niniwe adalah manusia yang tidak taat pada Tuhan. Tetapi Yunus berpendapat bahwa hanya dia, yang layak diselamatkan, Niniwe tidak layak. Yunus tidak bisa menerima kenyataan jika karakter Tuhan yang baik juga dinikmati oleh bangsa yang jahat.
Yunus marah ketika melihat Tuhan mengampuni orang Niniwe. Bahkan Yunus juga berkata lebih baik mati daripada melihat musuh-musuh Israel mendapatkan keselamatan dari Allah (ay. 3). Dan Allah pun bertanya kepada Yunus: ”Layakkah engkau marah?” Dan Yunus tak bisa menjawab pertanyaan itu. Sebab, dia memang tidak pantas marah.
Tuhan mengerti perasaan Yunus. Oleh karena itu, untuk membuat Yunus mengerti hati- Nya, Ia membandingkan kasih-Nya kepada Niniwe dengan kasih Yunus kepada pohon jarak yang menaunginya. Kalau Yunus bisa begitu mengasihi pohon yang tidak ditanamnya dan hanya dekat dengannya selama satu malam, apalagi Tuhan terhadap 120.000 orang Niniwe (ay. 10-11)
Melalui kisah Yunus dan pohon jarak kita belajar bahwa Tuhan mengasihi semua manusia, tanpa kecuali, termasuk kita. Tuhan mengasihi kita dengan caraNya yang seringkali berbeda dengan cara kita. Jika demikian, layakkah kita marah kepada Tuhan yang begitu mengasihi kita hanya karena apa yang kita bayangkan berbeda dengan yang Tuhan berikan? Layakkah kita marah kepada Tuhan karena berkat yang kita terima berbeda dengan berkat yang diterima oleh orang lain? Sejatinya, tidak ada alasan bagi kita untuk marah kepada Tuhan, karena Dialah yang paling mengasihi kita.
Tetap jaga kesehatan jiwa dan raga.
Tuhan memberkati.





