Warta Gereja • Renungan • Kegiatan

GKJ Rewulu
Renungan GKJ Rewulu

KEADAAN BUKAN ALASAN

Selasa, 9 November 2021

Markus 12 : 43 – 44
Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.
Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Salah satu keprihatinan yang dialami oleh gereja-gereja jaman sekarang adalah kesulitan untuk mencari pengurus, baik itu panitia, komisi, maupun majelis. Dari sekian banyak warga sebenarnya banyak yang mampu, tetapi sayangnya tidak banyak yang mau. Ada beberapa jawaban yang sering digunakan untuk menolak : usia terlalu muda/tua, belum berpengalaman, belum tahu banyak tentang tugas yang akan diemban, kesibukan, dll. Terkadang memang jawabannya jujur sesuai kenyataan, tetapi tidak jarang juga keadaan itu dijadikan sebagai alasan untuk penolakan.

Kisah janda miskin dan dua pesernya membuat kita malu. Dikatakan dengan jelas bahwa ia seorang janda miskin, hidupnya sengsara, keadaannya serba terbatas. Secara logika, jika ia mendapatkan uang tentu akan digunakan untuk keperluan hidupnya. Dia hanya memiliki uang 2 peser. Kalau diambil contoh gaji sehari 50.000, 2 peser sama artinya dengan 800. 2 peser itu semuanya dia masukkan ke dalam peti persembahan. Mungkin hanya sekedar ‘klunting’ bagi orang lain, tetapi baginya, itu adalah penghidupannya. Keadaan yang sulit tidak ia jadikan alasan untuk tidak memberikan yang terbaik bagi Tuhan.

Dari kisah ini kita diajak untuk belajar lebih memahami arti memberi yang terbaik untuk Tuhan sebagai wujud syukur anugerah Tuhan. Hal ini perlu selalu didengungkan, supaya kita tidak lupa dan tidak menjadikan keadaan sebagai alasan bagi kita untuk tidak memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Di tengah kesibukan kita, maukah kita memberikan waktu pribadi untuk berkomunikasi dengan Tuhan? Di tengah banyaknya pekerjaan, maukah kita memberikan diri kita untuk ikut serta dalam pelayanan? Di tengah keterbatasan ekonomi kita, bersediakah kita untuk memberi persembahan dengan tulus? Keadaan bukanlah alasan. Seperti lirik pujian NKB 199 : sudahkah yang terbaik kuberikan, kepada Yesus Tuhanku?

Selamat berefleksi
Tetap setia taati prokes
Tuhan memberkati

Tinggalkan Balasan