KAPOK LOMBOK
Kamis, 18 Februari 2021
Yoel 2 : 12 – 14
Kapok lombok artinya kapok/jera yang hanya bersifat sementara. Sama seperti ketika orang kepedasan sampai megap-megap meneteskan air mata dan kemudian berhenti karena tidak tahan dengan pedasnya. Namun beberapa waktu kemudian sudah kangen lagi untuk menyantap masakan pedas, sambal, dan sebagainya. Kapok-nya bersifat sementara/sesaat.
Semalam kita beribadah Rabu Abu, ibadah yang mengajak kita secara serius merenungkan makna pertobatan di hadapan Tuhan. Pertobatan yang bukan hanya kapok lombok. Menurut Yoel 2:12, pertobatan yang dikehendaki Tuhan ialah pertobatan yang dilakukan “dengan segenap hati, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh”. Pertobatan sejati bukan sekadar aksi secara lahiriah, seperti yang lazim dilakukan pada masa itu, yaitu mengoyakkan pakaian. Karena itu nabi Yoel berkata: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu!” (ayat 13).
Mengoyakkan hati adalah bentuk penyesalan mendalam atas kesalahan yang diperbuat. Mengoyakkan hati merupakan wujud kemauan untuk mematahkan/meremukkan hati yang penuh dengan dosa. Pertobatan dinyatakan dengan mengoyakkan hati, mengakui kesalahan, datang kepada Tuhan memohon kasih pengampunan, dan tentunya tidak mengulangi lagi. Kapok yang beneran kapok, tidak diulang lagi, bukan sekedar kapok lombok.
Memasuki masa Pra Paskah -masa penghayatan sengsara Kristus- ini, mari kita nyatakan pertobatan sejati, baik di dalam hati maupun dalam hidup sehari-hari.
Selamat menghayati masa Pra Paskah
Tetap jaga kesehatan jiwa raga
Tuhan memberkati





