IRI HATI
Kisah Para Rasul 7:9
“Karena iri hati, bapa-bapa leluhur kita menjual Yusuf ke tanah Mesir, tetapi Allah menyertai dia”
Terdapat orang yang sangat jeli dan teliti memperhatikan segala gerak-gerik dan bahkan barang-barang milik orang lain. Ada juga yang sibuk mencari informasi tentang dari mana sumber kekayaan yang diperolehnya. Bahkan ada yang berusaha melihat daftar gaji temannya hanya untuk mengetahui berapa sisa gaji yang diterima setelah dipotong pinjaman. Begitulah yang dilakukan oleh pemilik watak iri hati. Pewaatak iri memilki kekuatiran yang tinggi tentang bagaimana jika orang lain lebih baik, lebih sukses, lebih kaya atau jadi lebih segalanya dari dirinya. Iri bisa memicu orang melakukan hal-hal yang jahat bahkan tega melakukan pembunuhan. Bahkan sangat memungkinkan untuk menggiring opini orang-orang di sekitarnya untuk membenci orang yang dianggap menjadi saingannya.
Demikian juga yang disampaikan oleh Stefanus dari kisah Yusuf, ketika iri hati menguasai saudara-saudaranya karena Yusuf dianggap istimewa. Justru kerendahan hatilah yang menguasai Yusuf, tentu saja melalui suatu proses yang tidak mudah. Ketulusan hati dalam melayani saudara-saudaranya merupakan bukti bahwa Tuhan berkenan hadir dalam pribadi Yusuf. Sehingga kehidupan Yusuf senantiasa terkuasai dan terberkati oleh Tuhan.
Karena itu waspadalah terhadap sikap iri hati dan dengki yang dapat merusak segala bentuk relasi: dalam pekerjaan, bertetangga, keluarga maupun dalam persekutuan atau kehidupan berjemaat. Kita harus memelihara hati yang tulus dan mau diperbaharui oleh firman-Nya, serta senantiasa dikendalikan-Nya. Kita perlu mengendalikan diri supaya rasa iri hati tidak menguasai hati kita. Karena orang yang penuh dengan iri hati, hidupnya jauh dari damai sejahtera.
Jagalah hati kita, jauhkan diri dari iri hati, akan tetapi wartakan kasih dan ketulusan. Tuhan Yesus memberkati. Amin.





