Bertekun Dalam Doa
Yunus 2: 7
“Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.”
Pada Perang Dunia II, Betsie dan Corrie ditawan dalam kamp konsentrasi Ravensbruck. Keluarga Corrie ditangkap karena menyembunyikan orang-orang Yahudi di kediaman mereka. Meski menderita di situ, keduanya tetap mengadakan ibadah bersama dan menguatkan sesama tawanan. Beberapa hari sebelum Corrie dibebaskan, Betsie meninggal karena sakit. Ucapan terakhirnya kepada adiknya sungguh menggetarkan hati, “Tidak ada lubang yang begitu dalam di mana Tuhan tidak hadir di situ.”
Yunus memang berada dalam perut ikan karena alasan ketidakpatuhan pada panggilan Tuhan. Tetapi Yunus yang menyadari kesalahannya, memberi pesan kuat tentang kesetiaan, kerahiman, dan kemahahadiran Tuhan yang tak terbatas. Kegelapan di dasar lautan dalam perut ikan tak sanggup mencegah Tuhan hadir. Tak menghalangi sebuah doa dipanjatkan ke hadirat-Nya. Di situ Yunus merasakan doanya didengar, bahkan ia merasa seperti sedang berdoa di Bait Suci. Jika Tuhan hadir, perut ikan yang menyeramkan pun tetap bisa berfungsi menjadi ruang yang menenteramkan jiwa.
Tak jarang hidup ini membawa kita ke tempat dan kondisi yang tak dikehendaki. Dalam sebuah kondisi yang begitu menyedihkan, kesulitan dalam hidup yang terasa berat dan problem yang tak kunjung reda. Melalui renungan pagi hari ini kita diingatkan untuk terus memanjatkan doa dalam kondisi apapun seperti yang dilakukan Corrie, Betsie dan Nabi Yunus. Sebuah keyakinan bahwa Allah akan mendengar keluh kesah kita dalam kondisi apapun harus kita yakini betul. Jangan biarkan kesusahan kita menghentikan doa, tetapi biarlah doa kita yang menghentikan kesusahan kita.





