BERKAT DAN SYUKUR
Kamis, 11 Maret 2021
Lukas 4: 38 – 39
Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.
Di Jawa kita mengenal ada peribahasa diwenehi ati ngrogoh rempela, yang artinya, sudah diberi namun malah menuntut diberi yang lainnya lagi. Hal ini menggambarkan orang yang menuruti hawa nafsunya sendiri. Sudah diberikan yang menjadi kebutuhannya, ditolong
berulang-kali, tetapi justru meminta yang sudah tak wajar lagi, tidak tahu berterima kasih dan tidak tahu malu, yang penting semua keinginannya harus tercapai.
Berkat Tuhan tidak pernah
berhenti, terus mengalir dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak hati-hati kita akan terjatuh dalam dosa. Sebagai contoh : berkat yang sudah biasa kita dapatkan, sehingga kita kurang bisa mensyukuri bahwa sebenarnya itu adalah berkat Tuhan, misalnya kita masih bisa bernafas; atau ketika doa kita terkabul kemudian membuat kita meminta lagi dan lagi hingga di luar batas seperti peribahasa tadi : diwenehi ati ngrogoh rempela dengan pemahaman
“mumpung Tuhan berkenan memberi”. Sikap seperti ini menggambarkan bahwa hawa nafsu menguasai diri kita.
Bacaan Injil hari ini mengingatkan tentang hal menerima berkat dan bersyukur. Ketika Tuhan Yesus datang, Ibu mertua Simon sakit. Tuhan Yesus menghardik penyakit itu dan Ibu mertua Simon akhirnya sembuh. Ia segera bangun dan melayani mereka. Pelayanan ibu mertua Simon ini
merupakan wujud syukur kepada Tuhan Yesus yang telah berkenan menyembuhkannya. Terwujudnya harapan untuk sembuh tidak membuatnya lupa untuk bersyukur. Mari kita meneladan ibu mertua Simon, rasakan kasih Tuhan
dan segera melayaniNya sebagai wujud syukur atas berkatNya.
Selamat merasakan berkat Tuhan dan bersyukur.
Tetap jaga kesehatan jiwa raga.
Tuhan memberkati.





