BERBUAT BAIK
Lukas 6:9
“Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?”
Apa yang menghalangi seseorang untuk berbuat baik? Bisa jadi faktor dari luar akan tetapi bisa juga faktor dari diri sendiri. Misalnya merasa tidak mampu untuk berbuat baik, merasa takut, merasa hidupnya masih kekurangan, takut beresiko dan lain sebagainya.
Pada dasarnya, berbuat baik merupakan pilihan yang bisa diambil oleh setiap orang.
Pada zaman Yesus, hari Sabat dipahami secara sempit sebagai waktu untuk beristirahat dan tidak boleh bekerja. Menyembuhkan orang sakit adalah bekerja. Karena itu, menurut peraturan, Yesus tidak boleh menyembuhkan orang sakit pada hari itu. Namun, Yesus mengajak orang-orang yang ada pada saat itu untuk meluaskan cara pandang mereka. Alih-alih memandang penyembuhan sebagai sebuah pekerjaan, Yesus menyebutkan sebagai berbuat baik. Tidak ada waktu yang tidak tepat untuk berbuat baik. Karena itu, Yesus menyembuhkan orang itu pada saat itu juga.
Kita pun selalu diperhadapkan pada berbagai keadaan dan pilihan. Terkadang kita beralasan bahwa keadaan menyebabkan kita tidak bisa berbuat baik. Namun, Tuhan sendiri tidak pernah membatasi kebaikan-Nya karena keadaan. Karena itu, belajar dari tindakan Yesus, seharusnya kita pun melepaskan diri dari belenggu ketakutan dan aturan untuk berani memilih berbuat baik dalam segala keadaan. Dengan demikian, hari apa pun dan kapanpun adalah kesempatan untuk berbuat baik. Marilah tetap berbuat baik, kapanpun, dimanapun dan dengan siapapun. Tuhan Yesus memberkati. Amin.





