BAGAIMANA HATIKU
Selasa, 11 Mei 2021
1 Samuel 16 : 6-7
Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: “Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya.” Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”
Wajah/perawakan seseorang tidak bisa dijadikan jaminan untuk menggambarkan kualitas diri dan hati orang itu. Belum tentu orang dengan wajah/perawakannya biasa, kualitas diri dan hatinya juga biasa saja. Belum tentu pula yang wajahnya rupawan, kualitas diri dan hatinya seindah penampakannya.
Raja pertama Israel yaitu Saul memiliki perawakan yang tinggi besar, berpostur ksatria. Jadi wajar saja ketika Samuel mencari pengganti Saul dan melihat Eliab, Samuel berpikir bahwa Eliablah yang akan ia urapi menjadi raja. Dalam pikiran Samuel, seorang raja itu kualifikasi fisiknya seperti Saul. Namun Tuhan menegur Samuel, Tuhan menegaskan bahwa bukan perkara perawakannya/parasnya yang bak ksatria yang Tuhan lihat, tetapi TUHAN melihat hati. Dalam hal ini, Daudlah yang masuk dalam kualifikasi hati yang dikehendaki Allah bukan ketujuh saudaranya.
Kalau Tuhan melihat hati tentu mudah, karena tidak ada yang tersembunyi bagi Tuhan, termasuk yang ada di dalam hatipun Tuhan tahu. Tetapi kitakan bukan Tuhan yang bisa melihat hati orang lain. Laut bisa diukur kedalamannya tapi dalamnya hati orang siapa yang tahu. Yang perlu kita renungkan adalah mengapa kita mempersoalkan dengan apa yang ada di hati orang lain? Dan seringkali mudah menilai bahkan menghakimi hati orang lain yang sebenarnya tidak kita ketahui? Bagaimana kalau pertanyaan itu kita tujukan pada diri kita? Bagaimana hatiku di mata Tuhan?
Pertanyaan ini akan menuntun kita untuk menata hati kita agar indah di mata Tuhan, bukan sibuk menuntut hati orang lain. Kita akan dituntun untuk mengisi hati kita dengan kasih, jauh dari dendam, amarah dan benci. Mari pertanyaan ini kita renungkan: bagaimana hatiku di mata Tuhan?
Selamat berefleksi
Tetap jaga kesehatan jiwa raga
Tuhan memberkati





