Info Ibadah
Deskripsi:
DOWNLOAD PDF : Liturgi 6 September 2020
“Dadi wong ki sing solutip ngono lho yo” yang artinya jadilah orang yang bisa memberikan solusi. Saudara pasti tahu ini percakapan yang disampaikan oleh siapa. Kalimat ini disampaikan oleh seorang tokoh yang memerankan kharakter Bu Tejo di film pendek yang akhir-akhir ini sedang viral yaitu dengan judul TILIK. Secara garis besar film pendek ini menceritakan tentang ibu-ibu yang ingin menjenguk Bu Lurah dengan menaiki truk menuju rumah sakit di kota.
Terjadilah perdebatan antara Bu Tejo, tukang gibah (suka membicarakan orang lain) dan Yu Ning, sang pemikir positif. Ternyata, yang dikatakan oleh Bu Tejo kali ini bukan hanya gosip tapi memang terjadi, bahwa salah satu warga di kampung adalah seorang pelakor (pengganggu laki-laki orang/suami orang). Bagi sebagian orang atau netizen, film ini dianggap tidak memiliki pesan moral yang baik, karena ternyata orang yang berpikir positif justru dipihak yang salah. Namun, kali ini saya mengajak saudara untuk memaknai satu pesan dari Bu Tejo yaitu “Dadi Wong Ki Sing Solutip Ngono Lho Yo,” atau diartikan jadilah orang yang bisa memberikan solusi.
Dalam bacaan kita hari ini Yesus juga ingin mengajak umatnya untuk bergerak ke arah hidup yang solutif.
Yaitu dengan peristiwa yang disampaikan oleh Yesus ketika ada anggota atau saudara yang lain dalam persekutuan berbuat dosa atau kesalahan, apa yang harus dilakukan?
Dari situ Yesus memberikan solusi bahwa anggota yang lain punya tanggung jawab untuk mengingatkan.
Ada beberapa solusi yang disampaikan oleh Yesus :
- Dikomunikasikan secara empat mata atau pribadi
- Dikomunikasikan dengan disaksikan oleh saksi
- Dikomunikasikan di depan jemaat
- Bahkan ketika semua itu tidak bisa terselesaikan juga, maka Yesus mengatakan : “Pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau pemungut cukai” (ayat 17b). apa artinya saudara-saudara? Apakah kita membiarkannya bahkan menjauhinya? Tentu yang Yesus maksud bukan itu. Yesus saja tetap menyapa, merangkul, makan bersama bahkan singgah di rumah seorang pemungut cukai, salah satunya Zakheus. Dan disini artinya orang yang tidak mengenal Allah adalah orang non Yahudi. Tetapi bukankah karya keselamatan Allah pun juga untuk orang non Yahudi?
Pada dasarnya solusi yang ingin Yesus sampaikan adalah mewujudkan persekutuan orang beriman dengan dasar cinta kasih. Mewujudkan cinta kasih dengan saling memiliki dan terlibat. Satu hati satu rasa. Ketika salah satu diantara komunitas atau persekutuan merasakan keprihatinan, itupun menjadi keprihatinan bersama. Demikian juga ketika salah satu anggota merasakan sukacita itupun menjadi sukacita bersama. Jiwanya dalam persekutuan adalah CINTA KASIH. Seperti yang Yesus ajarkan dimana ketika ada seseorang bersalah, kita sebagai satu persekutuan berarti harus berani terlibat di dalamnya dengan memberikan teguran bagi dia atau mengkomunikasikan dengan terus terang secara empat mata. Artinya bukan lagi membicarakannya dibelakang atau ngrasani tetapi mengajak dia untuk berbicara dari hati ke hati dan memberi teguran. Tetapi kalau itupun tidak ada hasilnya boleh membawa saksi. Dan kalau itupun belum berhasil bolehlah dikomunikasikan bersama jemaat. Dasarnya bukan penghakiman tetapi komunikasi yang terbuka. Bahkan ketika itupun belum tercapai kita pun tetap harus mencari solusi dengan dasar kasih, yaitu menganggap dia ini adalah orang yang tidak mengenal Allah dan pemungut cukai. Artinya kita harus sadar bahwa ia pun menerima karya penyelamatan dari Allah dan kita harus tetap terlibat dengan tetap mau duduk bersama dan merangkulnya seperti yang Yesus lakukan. Karena orang-orang seperti itu justru harus diperhatikan secara lebih, dengan penuh kasih, seperti halnya Tuhan Yesus membuka diri, menyapa, dan menerima semua orang yang berdosa. Bukan malahan menjauhkan atau mengabaikannya dari persekutuan, karena setiap kita bertanggung jawab untuk saling memelihara.
Saudara yang terkasih,
Solusi yang disampaikan Yesus ini tentu jauh berbeda dengan yang dilakukan Bu Tejo dalam film TILIK ketika tahu orang lain melakukan kesalahan. Ketika Bu Tejo lebih suka menggibah atau lebih senang membicarakannya dibelakang kepada orang lain. Tetapi solusi yang dilakukan Yesus ketika melihat orang-orang yang berperilaku buruk, Ia menegur dan mengajak berkomunikasi secara langsung, tidak dibelakangnya. Dasarnya adalah cinta kasih bukan penghakiman.
Tetapi kenyataannya di dalam komunitas orang Kristen atau dalam persekutuan kita tidak terlepas dari hobi menggibah atau membicarakan orang dibelakangnya. Gibah sekarang tidak harus bertemu, bertatap muka, melalui media sosial, chating, telepon pun kita bisa menggibah. Bukan merangkul atau mendoakan saudara kita, yang ada malahan semakin menyebar luaskan cerita yang kadang belum tentu benar bahkan lebih parahnya lagi jatuh dalam penghakiman. Contohnya : kalau ada dalam warta gereja sdr-sdri X mengaku dosa. Apa yang kita lakukan? Mendoakannya? Mendukung dia? Merangkul dia? Mungkin. Tapi lebih seringnya kita membicarakannya dan menghakimi dia.
Tapi saat ini kita diingatkan dengan solusi yang Yesus ajarkan bagi kita yaitu bangunlah persekutuan yang penuh dengan cinta kasih. Saling memelihara, memiliki dan saling memperhatikan tanpa menghakimi. Tetapi kita pun juga harus siap dan menerima ketika kita diingatkan oleh orang lain. Oleh karena itu, Stop gibah atau membicarakan orang lain dibelakang, karena itu bukan hal yang solutip. Cinta kasih yang saling memelihara lah hal yang solutip dalam membangun persekutuan. Tuhan Yesus memberkati. Amin.