Info Ibadah
Deskripsi:
UNDUH PDF: Tata Ibadah Keluarga 4 Oktober 2020
Mulai Minggu ini GKI dan GKJ bersama-sama menghayati masa Bulan Keluarga. Kita diajak bersama-sama untuk belajar membangun dan merawat cinta kasih dalam keluarga kita. Apalagi di tengah kondisi pandemi saat ini yang memberi kita kesempatan untuk lebih banyak bersama keluarga di rumah, ternyata bertambah banyak pula pergumulan yang terjadi di tengah-tengah keluarga. Kiranya bulan Keluarga ini menguatkan dan menyemangati kita untuk berjuang memelihara keluarga kita, dan hari ini bersama-sama kita akan menghayati tema “KELUARGA BAGAI KEBUN ANGGUR”.
Masa pandemi memunculkan tren baru di tengah kehidupan kita. Kalau kita perhatikan halaman-halaman rumah menjadi semakin hijau karena saat ini sedang tren bercocok tanam, baik sayur-sayuran maupun tanaman hias (janda bolong, kuping gajah, aglonema, dll ). Ketika kita memutuskan untuk merawat tanaman tentunya kita mempersiapkan berbagai hal yang dibutuhkan untuk bercocok tanam, seperti tempat, media tanam, pupuk, dan kesediaan meluangkan waktu dan tenaga kita untuk merawat tanaman-tanaman itu. Kita saja berusaha agar tanaman-tanaman itu dapat tumbuh dengan baik dan subur, apalagi Tuhan Yesus yang digambarkan sebagai pemilik kebun anggur dalam bacaan kita hari ini. Tuhan Yesus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, agar kebun itu nantinya juga dapat menghasilkan hasil yang baik (ay. 33) : membangun pagar mengelilingi kebun anggur agar tetap terlindungi, membangun lobang tempat memeras anggur, dan membangun menara sebagai tempat untuk mengawasi keadaan kebun anggur.
Kebun anggur itu kemudian disewakan kepada para penggarap. Menurut aturan masyarakat pada saat itu, saat panen tiba akan diadakan bagi hasil antara si pemilik dengan si penggarap, namun jika selama 3 tahun si pemilik tidak datang mengambil bagiannya, maka kebun itu akan menjadi milik si penggarap. Ini yang melatar belakang penggarap melakukan pembunuhan dan penganiayaan terhadap para utusan pemilik tanah. Tiga kali pemilik tanah mengutus utusan untuk mengambil pembagian hasil, dan tiga kali pula para utusan mengalami nasib yang sama, mereka ditangkap, dipukuli, dan dibunuh. Bahkan ketika anak pemilik tanah datangpun, dia mengalami hal yang serupa (ay. 35 – 38). Dengan kejadian ini, tuan tanah mengambil kembali kebunnya dan diserahkan kepada penggarap-penggarap yang lain.
Masih berkaitan dengan bacaan Minggu lalu, perumpamaan penggarap-penggarap anggur ini dikatakan Tuhan Yesus untuk menegur imam-imam kepala dan orang-orang Farisi. Mereka mengerti yang dimaksudkan Yesus dalam perumpamaan itu adalah diri mereka. Mereka telah dipercaya menjadi penggarap (memelihara umat Tuhan), namun mereka melupakan tanggung jawab mereka, mereka melenceng dari tugas mereka, bahkan ketika para nabi utusan Tuhan datang, mereka berusaha untuk membunuh mereka. Bahkan ketika anak pemilik tanah datang, yaitu Yesus, merekapun berencana untuk membunuhNya.
Perumpamaan Yesus ini menghantar kita untuk berefleksi tentang kehidupan keluarga kita. Allah digambarkan sebagai pemilik kebun anggur, kebun anggur menggambarkan keluarga kita, dan kita adalah penggarap-penggarapnya. Kita diberi tanggung jawab untuk merawat kebun anggur. Allah sudah sedemikian kasihNya menyediakan segala sesuatu agar kebun anggur keluarga kita dapat terawat dengan baik dan menghasilkan hasil yang baik, namun sering kali kita mengabaikan pemeliharaan Allah, kita tidak menggunakan dengan baik hal-hal yang telah disiapkan Tuhan, sering kali kita justru mencari jalan sendiri, sehingga anggur yang kita hasilkan asam.
Ketika Allah memberi tanggung jawab kepada kita, tentunya Allah juga telah mempersiapkan berbagai hal yang mendukung agar kita mampu melakukan tugas dan tanggung jawab kita dengan baik. Hanya saja, sering kali kita kurang peka untuk melihat pemeliharaan Tuhan di dalam kehidupan kita. Merawat kehidupan keluarga kita bukan hanya tanggung jawab orang tua, tetapi tanggung jawab setiap anggota keluarga, termasuk anak-anak sekalipun. Membangun keluarga tidak sekedar bisa bertahan hidup – segala kebutuhan tercukupi – selesai, bukan itu. Tetapi membangun kehidupan keluarga Kristen berarti merawat cinta kasih keluarga agar keluarga bisa bertumbuh dan menghasilkan buat yang manis.
Tren bercocok tanam yang saat ini sedang populer mengubah kebiasaan banyak orang. Mereka menyediakan diri untuk merawat tanaman mereka sebaik mungkin, memberikan waktu dan tenaga mereka agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Alangkah indahnya jika hal ini juga kita terapkan dalam merawat kebun anggur keluarga kita. Setiap anggota menyediakan diri, waktu, dan tenaga untuk merawat cinta kasih: saling menyapa, saling menguatkan, saling mengingatkan. Keluarga kita tidak hanya tercukupi kebutuhan secara jasmani, tetapi juga dapat merasakan kedamaian. Mari, sirami keluarga dengan cinta kasih, pupuk keluarga dengan firman Tuhan, agar kebun anggur keluarga kita tidak hanya sekedar tumbuh, tetapi tumbuh lebat dan berbuah manis. Mari jadikan keluarga kita menjadi tempat yang paling nyaman dan dirindukan.
Selamat merawat kebun anggur keluarga. Tuhan memampukan. Amin.