30 Agustus 2020 – Menjadi Pengikut Kristus yang Berani

Info Ibadah

Tanggal Ibadah 30 Agustus 2020
Pelayan Firman Pdt. Hesty Murwasari, S.Th.
Bahasa Pengantar Bahasa Indonesia

Deskripsi:

DOWNLOAD PDF: Liturgi 30 Agustus 2020

Seiring berjalannya waktu, melalui berbagai peristiwa yang terjadi dan respon terhadap peristiwa tersebut, dapat terlihat sejauh mana pemahaman atau kebenaran perkataan seseorang yang telah diucapkan di waktu yang lalu. Karena itu, tidak jarang ketika kita mendengar seseorang berbicara, kita akan mengamati sikapnya, apakah yang dikatakan itu benar atau tidak. Begitu pula ketika kita menyampaikan informasi kepada orang lain, tidak jarang kitapun mengamati apakah orang tersebut dapat menerima informasi yang kita sampaikan atau tidak. Demikian pula yang terjadi dengan Tuhan Yesus dan para muridNya dalam bacaan kita dua minggu ini. Minggu lalu kita telah memperhatikan pengakuan Petrus tentang Tuhan Yesus, dan Minggu ini kita akan memperhatikan kelanjutan dari pengakuan tersebut dengan tema “MENJADI PENGIKUT YESUS YANG BERANI”.

Peristiwa Petrus menyatakan pengakuannya bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup, menjadi titik awal bagi Tuhan Yesus untuk menyatakan maksud kedatanganNya di dunia, yaitu Dia akan menderita, dibunuh, dan dibangkitkan pada hari yang ketiga (Ay. 21). Tetapi, dari respon Petrus yang menarik dan menegor Tuhan Yesus (Ay. 22), dapat terlihat jika pengakuan Petrus tentang Yesus adalah Mesias, belum dapat dihayati sepenuhnya dan belum terlihat nyata dalam tindakan. Ada perbedaan pemahaman Mesias menurut Petrus dengan Mesias yang sesungguhnya. Dan pemahaman yang belum benar ini dapat menjadi batu sandungan bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang. Petrus masih menggunakan pemahaman pribadinya tentang sosok Mesias. Bagi Petrus dan bagi banyak orang pada waktu itu, sosok Mesias akan memberikan keselamatan, kebebasan, dan kemenangan, tidak mungkin menderita dan dibunuh. Sedangkan Mesias yang sesungguhnya adalah juru selamat yang berani menderita bahkan menyerahkan nyawanya demi keselamatan dan pembebasan banyak orang. Karena perbedaan pemahaman ini, maka Tuhan Yesus menegur Petrus dengan keras (Ay. 23).

Dalam sejarah kehidupan manusia, manusia selalu berusaha agar hidupnya baik, aman, dan nyaman, jauh dari penderitaan. Karena itu tidak banyak orang yang berani untuk tetap melangkah maju jika sudah diketahui apa yang dilakukannya beresiko membuat hidupnya menderita. Kalau bisa hidup enak, mengapa harus menderita? Ini yang menjadi prinsip hidup bagi banyak orang. Namun tidak demikian dengan prinsip hidup para pengikut Kristus. Tuhan tidak menjanjikan hidup para pengikutNya jauh dari penderitaan, Tuhan Yesus menyatakan dengan gamblang bahwa sebagai pengikutNya, ada tanggung jawab yang harus dilakukan yaitu :
1. Menyangkal diri (Mengalahkan diri sendiri, keluar dari zona nyaman, tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi.)
2. Memikul salib (Menanggung kesulitan/penderitaan karena komitmen untuk melakukan kehendak Tuhan, bahkan mungkin kita tidak disuka atau dibenci oleh orang lain.)
3. Mengikut Yesus (Tidak hanya mengetahui apa yang dikehendaki Tuhan tetapi juga berani untuk mengikut Tuhan, dalam arti mengikut teladan Yesus)
Tiga hal yang tidak mudah untuk dilakukan karena membutuhkan keberanian dan tekad yang besar untuk keluar dari zona nyaman dan melakukan kehendak Tuhan. Seorang pengikut Yesus bukan sekedar fans atau penggemar yang hanya mengelu-elukan idolanya. Lebih dari itu, seorang pengikut Yesus harus berani meneladan apa yang dilakukan oleh Yesus.

Secara tidak sadar, sikap hidup kita masih sering seperti Petrus. Dengan mudah kita mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan kita, kita mengakui bahwa Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Pengampun, dll, namun kita belum berani membuktikan pengakuan tersebut dalam sikap hidup sehari-hari. Sebagai contoh, ketika tersakiti, kita masih enggan untuk mengampuni, masih menyimpan dendam, belum berani dan belum bisa menyangkal diri, memikul salib dan meneladani Yesus untuk mengampuni, karena masih terfokus pada rasa sakit yang kita rasakan bukan pada pengajaran Yesus tentang pengampunan.

Saat ini jati diri kita sebagai pengikut Kristus yang berani, semakin diuji. Di saat kita mulai jenuh dengan segala peraturan dan protokol yang harus kita jalani, di tengah kebosanan yang mulai datang karena banyak hal yang saat ini belum bisa kita lakukan dengan nyaman, keinginan untuk tidak menaati aturan semakin tinggi. Melalui pewartaan firman hari ini, kita dikuatkan kembali untuk berani tidak sekedar mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan kita, tetapi juga berani membuktikan pengakuan ini dalam sikap hidup sehari-hari kita yang meneladani sikap hidup Yesus dengan tetap menaati peraturan dan protokol yang berlaku saat ini walaupun mengharuskan kita untuk keluar dari zona nyaman. Seperti Yesus yang berani menderita bagi keselamatan banyak orang, demikian seharusnya kita sebagai pengikut Yesus, berani untuk menjaga keselamatan banyak orang dengan mematuhi protokol yang ada. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk berani keluar dari zona nyaman untuk melakukan kehendak Tuhan. Tuhan memberkati.
Amin.