27 September 2020 – Semakin Dekat, Semakin Erat

Info Ibadah

Tanggal Ibadah 27 September 2020
Pelayan Firman Pdt. Hesty Murwasari, S.Th.
Bahasa Pengantar Bahasa Indonesia

Deskripsi:

UNDUH PDF: Tata Ibadah Keluarga 27 September 2020

“SEMAKIN DEKAT, SEMAKIN ERAT”

 Sebelum kita menghayati segarnya Sabda Tuhan hari ini, saya ingin mengajak kita semua untuk mengambil nafas dalam sebanyak 3 kali, kita akan menutup mata, hening sejenak sambil mengingat-ingat kembali apa yang sudah kita alami di dalam kehidupan kita (beri waktu beberapa saat). Dalam permenungan tadi, banyak hal yang muncul kembali dalam ingatan seperti film yang diputar kembali, baik pergumulan-pergumulan yang pernah kita hadapi ataupun berkat-berkat yang telah kita terima. Begitu banyaknya berkat pemeliharaan Tuhan yang telah kita terima bahkan di tengah pergumulan sekalipun. Jadi, lirik lagu yang tadi kita pujikan ketika menghaturkan persembahan nyata benar-benar terjadi.

Bila topan k’ras melanda hidupmu,

bila putus asa dan letih lesu,

berkat Tuhan satu-satu hitunglah,

kau niscaya kagum oleh kasihNya.

Refr. :

Berkat Tuhan, mari hitunglah,

kau ‘kan kagum oleh kasihNya.

Berkat Tuhan mari hitunglah,

kau niscaya kagum oleh kasihNya

 

Berkat pemeliharaan Tuhan yang tidak dapat kita hitung dan tidak pernah berhenti di dalam kehidupan kita seharusnya menumbuhkan rasa syukur, dan rasa syukur ini kita wujudkan salah satunya melalui ibadah. Melalui ibadah, hubungan kita menjadi semakin dekat dan erat dengan Tuhan dan sesama,  seperti tema hari ini “Semakin Dekat, Semakin Erat”. Melalui tema hari ini kita diajak untuk menghayati bahwa ibadah yang kita lakukan sebagai wujud syukur atas berkat pemeliharaan Tuhan semakin mendekatkan kita dengan Tuhan dan mempererat kita dengan sesama.

 

Bacaan hari ini, Matius 21: 23-32 menghantar kita untuk menghayati bahwa berkat yang Tuhan berikan tidak hanya dalam bentuk berkat jasmani seperti kesehatan, keluarga, pekerjaan, dll, tetapi juga berkat pemeliharaan rohani dalam bentuk penerimaan dan pengampunan Tuhan atas orang-orang berdosa yang mau bertobat. Kisah ini di latar belakangi dari ketidaksukaan imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi kepada Yesus atas apa yang dilakukan Yesus dan banyaknya pengikut Yesus, bahkan dari kalangan orang-orang yang dianggap berdosa dan disingkirkan pada masa itu. Orang banyak ini mengelu-elukan Yesus ketika masuk ke Yerusalem. Sesampainya di halaman Bait Allah, Yesus membalikkan meja dan kursi para pedagang. Kedua hal ini membuat imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi semakin tidak suka dengan Yesus dan mencari cara untuk menjatuhkannya.

 

Tuhan Yesus menegur para imam kepala dan tua-tua Yahudi melalui  pembalikkan pertanyaan dan juga melalui perumpamaan tentang dua anak yang diminta ayahnya untuk bekerja di kebun anggur. Anak pertama mengiyakan namun tidak melakukan, anak kedua menolak, tetapi pada akhirnya sadar dan kemudian berangkat ke kebun anggur seperti perintah ayahnya. Dalam perumpamaan ini, imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi digambarkan seperti anak pertama, mereka telah melihat dan mendengar ajaran Yesus, namun mereka tidak percaya dan tidak melakukan. Anak kedua menggambarkan orang-orang yang awalnya dianggap sebagai kaum berdosa dan terpinggirkan seperti pemungut cukai dan perempuan sundal, mereka menyadari kesalahan dan bertobat. Melalui teguran Yesus ini kita juga diajak untuk melihat berkat pemeliharaan Tuhan melalui pengampunan dosa dirasakan dan diterima oleh mereka dan juga oleh kita. Anak kedua juga menggambarkan manusia yang berdosa di hadapan Tuhan, mengakui kesalahan, bertobat dan menjadi orang yang berkenan di hadapan Tuhan. Tuhan berkenan mengampuni dan menerima mereka kembali.

 

Berkat pemeliharaan ini, baik berkat pemeliharaan jasmani maupun rohani, patut kita syukuri dan ungkapkan melalui ibadah. Dengan ibadah kita membangun hubungan dengan Tuhan dan juga dengan manusia. Hal ini dikarenakan, dalam ibadah ada dua perjumpaan yang kita lakukan, yaitu perjumpaan kita dengan Allah dan perjumpaan kita dengan sesama, walaupun untuk sementara waktu ini baru bisa lakukan melalui perjumpaan virtual seperti ibadah saat ini. Melalui ibadah-ibadah yang kita lakukan, baik ibadah hari Minggu seperti saat ini, maupun ibadah di kehidupan kita sehari-hari seharusnya menuntun kita untuk semakin dekat dengan Tuhan, semakin dapat melihat dan merasakan berkat pemeliharaan Tuhan yang senantiasa berserta kita. Kedekatan dengan Tuhan ini akan mendorong kita untuk juga mengasihi sesama, sehingga hubungan kita dengan sesamapun semakin erat. Dengan ibadah, kita menjadi semakin dekat dengan Tuhan dan semakin erat dengan sesama. Jika kita sudah beribadah tetapi kita tidak menjadi semakin dekat dengan Tuhan dan semakin erat dengan sesama, kita perlu untuk merenungkan dan melihat kembali bagaimana ibadah yang kita lakukan selama ini.

 

Walaupun saat ini kita beribadah di rumah masing-masing, belum bisa beribadah bersama secara langsung, namun hal ini tidak mengurangi kesungguhan dan sukacita kita dalam beribadah. Justru ini menjadi salah satu wujud eratnya hubungan kita dengan sesama dengan saling menjaga dan tidak saling menyakiti. Ibadah di rumah tetap kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan khidmat, tidak sembrono, sebagai wujud syukur kita atas berkat Tuhan yang tak terhitung jumlah dan nilainya. Selamat melanjutkan ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Selamat membangun hubungan yang semakin dekat dengan Tuhan dan semakin erat dengan sesama. Berkat Tuhan memampukan kita. Amin.