Info Ibadah
Deskripsi:
UNDUH PDF: Ibadah Keluarga 20 September 2020
Bapak/Ibu dan saudara/i yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Tujuan orang bekerja adalah untuk mendapatkan upah. Tentu jarang sekali bahkan hampir tidak ada orang yang mau bekerja tanpa mendapatkan upah. Kenyataannya saja ketika banyak pekerja-pekerja yang demo karena perusahaan dimana mereka bekerja tidak mampu memberikan upah tepat pada waktunya dan tidak sesuai dengan kesepakatan jumlahnya. Itu bukti bahwa orang mau bekerja supaya mendapatkan upah. Jumlah upah yang diterimapun seharusnya disesuaikan dengan banyak sedikitnya tanggungjawab juga jam kerja. Semakin banyak tanggung jawab dan jam kerjanya, upah yang diterimapun semakin bertambah, misalnya kalau sudah melewati jam kerja ada uang lembur.
Dalam bacaan kita pun berbicara tentang upah, dimana ada sebuah perumpamaan yang disampaikan Yesus yaitu tentang orang-orang upahan di kebun anggur. Dimana ada seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Bertemulah dengan pekerja-pekerja dan mereka saling sepakat mengenai upah yang bisa mereka terima yaitu sedinar sehari, lalu mereka ke kebun anggur tuannya. Lalu kira-kira pukul sembilan pagi tuan rumah ini keluar dan melihat lagi orang-orang yang menganggur di pasar dan ia meminta kepada mereka untuk pergi bekerja di kebun anggurnya dan akan diberikan upah sepantasnya. Merekapun setuju dan pergi ke kebun anggur. Lalu pukul dua belas dan pukul tiga tuan rumah keluar lagi dan melakukan hal yang sama. Ia pun mendapati lagi orang-orang yang menganggur lagi. Lalu ia mengajak mereka untuk bekerja di kebun anggurnya dan bekerjalah mereka di kebun anggur tuan itu. Ketia pukul lima ia pun melakukan hal yang sama dan mendapati orang-orang lain yang menganggur pula. Tuan itu bertanya mengapa mereka hanya menganggur sepanjang hari itu? Dan mereka pun menjawab kalau tidak ada seorangpun yang mau mengupah mereka atau mempekerjakan mereka (ayat 7). Lalu ia pun mengajak mereka untuk bekerja di kebunnya dan bekerjalah mereka. Ketika malam tiba, tuan itu berkata kepada mandurnya supaya ia memanggil pekerja-pekerja dan membayarkan upah para pekerja. Dimulai dari pekerja yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah pekerja yang mulai bekerja pukul lima sore, mereka menerima upah satu dinar. Berurutan sampai yang terdahulu, disangkanya yang terdahulu akan mendapatkan upah lebih banyak daripada yang mulai pukul lima sore. Tapi nyatanya mereka menerima upah yang sama yaitu satu dinar. Mereka bersungut-sungut, tidak terima ketika tuannya menyamakan upah dimana jam kerja mereka berbeda. Mereka harus bekerja seharian bahkan merasakan panas teriknya matahari tetapi upahnya sama dengan yang bekerja dari pukul lima sore. Mereka iri dengan sikap murah hati tuannya dan merasa tuannya tidak adil. Karena pada dasarnya pemberian upah adalah hak bebas sang tuan.
Bapak/ibu dan saudara/i yang terkasih,
Ternyata sikap murah hati sang tuan tidak diterima dengan baik oleh para pekerja yang sudah bekerja terdahulu. Padahal tuan ini bermurah hati karena tahu pekerja yang bekerja pukul lima sore ini sungguh membutuhkan, karena sebelum ia bertemu dengan tuan kebun anggur itu tidak ada seorang pun yang mempekerjakan mereka (ayat 7). Tetapi pekerja yang lain tidak tahu dan tidak mau tahu, sehingga mereka bersungut-sungut dan iri dengan kebaikan tuannya kepada pekerja yang bekerja terkahir. Merekapun lupa bahwa sejak awal pun sudah ada kesepakatannya upah satu hari yaitu satu dinar, tidak disebutkan berapa jam.
Saudara yang terkasih,
Terkadang kita pun seperti pekerja kebun anggur yang bekerja lebih awal di kebun anggur itu. Mengapa?
- Lupa bahwa ‘upah’ yang diberikan itu adalah hak bebas Sang Tuan
Kita lupa bahwa setiap ‘upah’ atau berkat yang diterima oleh setiap kita manusia itu adalah hak bebas Tuhan atau anugerah dari Tuhan sendirilah. Kita tidak bisa mengatur dan memaksa Tuhan harus memberikan berkat kepada kita seberapa banyak atau sesuai dengan kemauan kita. Tetapi yang kita yakini adalah Sang Tuan pasti memberikan kecukupan bagi kita, memberikan dengan adil sesuai dengan kebutuhan kita. Itu yang perlu kita renungkangkan.
- Tidak bersyukur
Pekerja-pekerja yang sudah bekerja lebih awal bahkan dari pagi ini lupa untuk bersyukur ketika ia diberikan kesempatan lebih awal untuk bekerja. Itu artinya kondisinya sebagai orang pengangguran sudah hilang lebih dulu dibandingkan pekerja-pekerja yang lain yang masih menunggu waktu dipanggil oleh sang tuan untuk bekerja. Bukankah itu juga sering terjadi dalam hidup kita? Kita sudah mendapatkan pekerjaan yang baik dibandingkan dengan banyak orang yang mungkin masih mencari dan menantikan pekerjaan, tetapi yang terjadi kita tidak mensyukuri dengan karya dan pekerjaan yang kita terima. Banyak kerjaan mengeluh, susah sedikit mengeluh, bahkan parahnya lagi menjalaninya dengan asal-asalan dan setengah hati. Ingatlah bahwa pekerjaan apapun saat ini yang Tuhan berikan bagi kita, syukurilah dan tanggung jawablah, karena itu bagian dari ibadah kita.
- Iri hati dengan berkat yang diterima oleh orang lain
Iri hati adalah akar dari kejahatan. Mengapa demikian? Karena kita merasa tidak terima dengan kebahagiaan, kesuksesan bahkan mungkin kelimpahan orang lain. Kita mulai membanding-bandingkan diri kita dengan mereka. Seperti saya lebih baik dari dia lalu kenapa dia bisa menerima lebih daripada saya? Bisa jadi karena iri lalu kita inging menjatuhkan bahkan menghancurkan kehidupan orang lain. Maka jagalah hati kita supaya tidak punya rasa iri hati dengan orang lain, karena sekali lagi setiap kita punya berkatnya masing-masing dengan segala kecukupannya.
Inilah ibadah sejati yang perlu kita wujudkan dalam hidup kita. Pemeliharaan iman tidak hanya berhenti secara ritual tetapi wujud nyata dalam sikap hidup kita. Sadar dan yakin betul bahwa berkat adalah hak bebas Tuhan yang diberikan kepada kita, maka seberapapun berkat yang kita terima itulah berkat dan anugerah Tuhan. Lebih lagi jadilah anak Tuhan yang mau bersyukur salah satunya dalam tanggung jawab yang sudah Tuhan berikan kepada kita dan jangan sampai hati kita penuh dengan rasa iri hati. Jagalah hatimu dan lakumu sesuai dengan kehendak Tuhan, itulah ibadahmu yang sejati. Tuhan memberkati. Amin.