2 Agustus 2020 – Belas Kasih Allah Mendatangkan Berkat

Info Ibadah

Tanggal Ibadah 2 Agustus 2020
Pelayan Firman Pdt. Hesty Murwasari
Bahasa Pengantar Bahasa Indonesia

Deskripsi:

Sering kali ketika ada waktu senggang, kita memikirkan hal-hal yang telah kita lalui dalam kehidupan kita. Tidak jarang juga kita dibuat kagum ternyata bergitu besar kasih Tuhan atas kita, kita diberkati dengan luar biasa. Kita sering tidak menduga bahwa kita bisa mencapai atau mendapatkan sesuatu yang dahulu tidak pernah kita fikirkan. Bukan karena kekuatan kita semata, tetapi karena kasih karunia Tuhan memampukan kita. Demikian pula yang dirasakan para murid dalam mukjizat lima roti dan dua ikan. Mereka dibuat heran dan bersyukur, berawal dari lima roti dan dua ikan, mereka dapat memberi makan lebih dari 5000 orang bahkan sisa 12 bakul.

Mukjizat ini menjadi semakin menarik karena semua Injil menuliskannya. Ada makna yang begitu dalam yang disampaikan oleh penulis mengenai mukjizat ini. Kisah ini berawal dari keinginan Yesus untuk menyingkir dan mengasingkan diri sejenak karena keprihatinan setelah mendengar berita dibunuhnya Yohanes Pembaptis. Namun di sisi lain banyak orang dari berbagai kota mengikutinya, dan tergeraklah hari Yesus untuk menyembuhkan dan mengajar mereka. Keinginan Yesus untuk menyepi tidak menjadi alasan bagiNya untuk tidak peduli kepada orang banyak.

Pergumulan muncul ketika hari menjelang malam dan masih banyak orang yang mengerumuni Yesus. Melihat situasi ini hati para muridpun tergerak untuk peduli dan mengajukan ususlan kepada Yesus. Usul ini lahir dari kepedulian mereka terhadap keberadaan orang banyak. ”Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: ’Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa’” (Mat. 14:15). Dalam kalimat ini tersirat jelas bahwa para murid tidak hanya memikirkan diri mereka sendiri. Mereka tidak ingin orang banyak itu kelaparan.

”Tetapi Yesus berkata kepada mereka: ’Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan’” (Mat. 14:16). Bisa jadi sebenarnya mereka pun ingin berbagi. Tak heran dengan cepat mereka merespon perkataan Guru mereka yang memerintahkan untuk memberi makan. Mereka berkata bahwa yang ada pada mereka hanyalah lima roti dan dua ikan. Jika itu dimakan bersama rombongan Yesus saja, makanan ini akan cepat habis dan tidak kenyang. Mereka tahu kondisi mereka: ingin berbagi, tetapi tak mampu. Dan karena peduli, mereka memberikan usul yang cukup logis—sebelum malam sungguh tiba, dan warung-warung mulai tutup, maka massa itu dibubarkan saja agar mereka bisa mendapatkan makanan.

Menyerahkan apa yang “dimilikinya” untuk orang lain, berarti para murid memahami konsekuensi yang akan diterima. Bekal makanan mereka akan habis dan tidak ada yang bisa dikonsumsi lagi. Sama halnya dengan siap untuk menanggung rasa lapar dan dahaga. Ada keinginan namun diperhadapkan pada keterbatasan, ada keinginan namun diperhadapkan pada resiko. Keterbatasan dan resiko inilah yang sering membuat kita pada akhirnya mengurungkan niat baik untuk peduli kepada orang lain. Sering kali kita berfikir : apa yang mau diberi jika untuk diri kita saja kurang? Bagaimana kalau setelah memberi justru saya menjadi kekurangan? Kita merasa kepunyaan kita saat ini adalah hasil keringat kita, sehingga enggan untuk berbagi, kita sering lupa sebenarnya itu semua adalah wujud belas kasih dan berkat Tuhan bagi kita.

Melalui mukjizat ini kita diingatkan, bahwa keterbatasan dan resiko tidak menjadi halangan para murid untuk berbelas kasih kepada sesama. Untuk peduli tidak perlu menunggu sampai berkecukupan. Dalam segala kondisi, bahkan dalam keterbatasanpun kita bisa berbagi. Dengan lima roti dan dua ikan yang diberkati Yesus, lima ribu orang lebih dapat makan hingga kenyang dan sisa 12 bakul. Sesuatu yang besar terjadi berawal dari sesuatu yang kecil dengan niat yang baik. Perjumpaan dengan Yesus mengubah pemikiran para murid. Mereka menjadi dicelikkan bahwa keterbatasan tidak menghalangi untuk berbagi. Hal yang di luar dugaan dan bayangan manusia.

Apa yang kita miliki saat inipun bukan hasil jerih payah kita semata, semua adalah berkat kasih karunia Tuhan bagi kita. Belas kasih Allah mendatangkan berkat bagi kita. Pengalaman perjumpaan dengan Allah ini yang hendaknya mendorong kita untuk memiliki belas kasih dan kepeduliaan terhadap sesama. Peduli tidak harus menunggu berkecukupan. Keterbatasan tidak menjadi halangan untuk peduli. Mukjizat lima roti dan dua ikan, serta belas kasih Tuhan bagi kita melalui Sakramen Perjamuan yang kita terima hari ini menjadi lecutan pengingat dan semangat untuk berbelas kasih dan peduli. Semoga keterbatasan harta tidak membuat kita enggan untuk berbagi dengan saudara yang lain. Semoga keterbatasan waktu tidak menjadi alasan bagi kita untuk tidak ikut serta dalam pelayanan. Semoga keterbatasan ruang gerak karena pandemi saat ini tidak menjadi halangan bagi kita untuk tetap saling menyapa dan peduli walau tanpa bertemu langsung. Karena harta, waktu, dan kesempatan yang kita dapatkan sampai saat ini adalah wujud belas kasih Allah bagi kita, mari kita bagikan juga kepada yang lain.

Selamat berbagi! Amin.