Info Ibadah
Deskripsi:
Ketika berpikir tentang ‘pemberian’ biasanya kita tidak serta-merta melakukannya. Kita akan mengulik siapa yang akan menerima pemberian kita? Mengapa kita memberi? Apa yang akan kita berikan? Setidaknya tiga hal ini yang biasanya menjadi bahan pertimbangan ketika kita akan memberi, dengan harapan apa yang kita berikan tepat sasaran. Siapa yang kita beri? Mengapa kita memberi? Berpengaruh pada apa yang akan kita berikan.
‘Pemberian’ ini pula yang dipakai oleh orang-orang Farisi untuk menjebak Yesus, dalam hal ini kaitannya dengan pembayaran pajak kepada kaisar. Situasi dilematis mewarnai pembayaran pajak pada masa itu. Pemerintah Romawi sebagai penjajah pada waktu itu, mewajibkan penduduk jajahannya untuk membayar pajak kepada Kaisar. Orang-orang Yahudi sebagai penduduk yang terjajah merasa keberatan mengenai kewajiban ini. Dan orang-orang Farisi yang berkali-kali mencari cara untuk menjebak Yesus akhirnya memakai pembayaran pajak ini untuk menjebak Yesus dengan harapan apapun yang menjadi jawaban Yesus dapat digunakan untuk menyerang Yesus. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Kalau begitu, katakanlah pendapat-Mu kepada kami. Apakah dibenarkan untuk membayar pajak kepada kaisar atau tidak?” (ay. 17). Yang ada dalam bayangan mereka, ketika Yesus menjawab iya, maka dapat dijadikan bahan untuk menyerang Yesus karena dianggap pro dengan penjajahan Romawi, dan jika Yesus menjawab tidak, dapat dijadikan bahan untuk menyerang Yesus karena tidak mendukung pemerintahan Romawi. Apapun yang menjadi jawaban Yesus akan digunakan untuk menyerang dan menangkap Yesus.
Ternyata jawaban Yesus tidak seperti yang mereka duga. Yesus meminta mereka menunjukkan mata uang untuk pajak dan menggunakan mata uang itu untuk menjawab mereka. “Gambar dan tulisan siapakah ini?” (ay. 20). Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (ay. 21). Tuhan Yesus menggunakan gambar dan tulisan yang ada pada mata uang pajak sebagai alat untuk menjelaskan apa yang harus mereka lakukan kepada pemerintah. Gambar dan tulisan pada mata uang menjadi gambaran siapa yang paling berkuasa di daerah itu.
Lalu, apa yang harus kita berikan kepada Allah? Di mana Allah tergambar? Hal ini mengajak kita untuk mengingat kisah dalam Kejadian 1: 26-27 “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Melalui ayat ini kita diingatkan bahwa Allah tergambar dari diri kita dan Allah-lah yang paling berkuasa dalam hidup kita. Dengan demikian, apa yang ada dalam kehidupan kita, apa yang kita miliki sebenarnya adalah berkat pemeliharaan Allah sehingga kita patut menyembahNya. Karena kita adalah gambar Allah maka kita patut pula memberikan yang seharusnya kepada Allah. Pemberian orang percaya kepada Allah bukan berdasarkan hitungan angka-angka melainkan penyerahan totalitas hidup manusia sendiri. Segala yang kita miliki bersumber dari Tuhan karena itu kita juga mempersembahkan hidup kita bagi Tuhan.
Jika kita memakai tiga bahan pertimbangan yang biasanya kita pakai untuk memberi seperti yang telah disebutkan di awal tadi: Siapa yang akan menerima pemberian kita? “Tuhan”; Mengapa kita memberi kepada Tuhan? “karena apa yang kita miliki sebenarnya adalah berasal dari Tuhan”; Apa yang akan kita berikan? “semuanya kita berikan untuk Tuhan” termasuk dalam kaitannya dengan Bulan Keluarga ini, keluarga kitapun selayaknya kita berikan untuk Tuhan. Dalam pengertian, mari kita merawat keluarga kita agar menjadi keluarga yang berkenan bagi Tuhan.
Semua dari Dia dan bagi Dia. Kita meyakini bahwa keluarga kita adalah pemberian Tuhan. Kita meyakini kita ditempatkan di keluarga yang paling pas menurut Tuhan, karena Tuhan memberikan yang terbaik bagi umatNya. Bagaimanapun keadaan keluarga kita, Tuhan memiliki rancangan indah bagi setiap kita. Karena itu sudah selayaknyalah kita membawa keluarga kita untuk tetap berjalan di jalan Tuhan sebagai bentuk syukur atas berkatNya. Tantangan kehidupan keluarga saat ini semakin besar, baik berasal dari dalam maupun dari luar. Karena itu mari kita memohon kepada Tuhan agar dikuatkan dan dimampukan untuk melakukan tugas kita di tengah keluarga agar keluarga yang kita bangun dapat menjadi keluarga yang berkenan bagi Tuhan. Berikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah (Ay. 21). Semua yang kita miliki adalah dari Tuhan dan bagi Tuhan, termasuk keluarga kita. Amin.