Info Ibadah
Deskripsi:
UNDUH PDF: Liturgi Ibadah Keluarga 13 September 2020
Saat ini kita akan memperhatikan dua kata yang mirip namun artinya jauh berbeda. Yang pertama adalah kata ‘sambat’ (mengaduh, mengeluh) menjadi semakin familiar di tengah kondisi kita saat ini. Sambat kepada Tuhan dan sambat kepada sesama, mulai dari percakapan langsung, telepon, chatting, dan status dihiasi oleh sambatan-sambatan tentang pergumulan hidup. Sampai ada judul novel dan film yang judul aslinya “Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini” diplesetkan menjadi “Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini”. Bisa dikatakan hidup kita sekarang ini tiada hari tanpa sambat, entah kita sendiri yang sambat, atau orang lain yang sambat. Ketika mendapat jalan keluar dari sambatan kita, kita merasa senang dan lega luar biasa.
Kata yang kedua adalah kata ‘sumbut’ (sepadan, sesuai). Sambat dan sumbut merupakan dua kata yang hanya berbeda huruf vokal, tetapi maknanya jauh berbeda. Kalau kita bisa sambat, seharusnya hidup kitapun sumbut dengan sambatan kita. Hari ini melalui tema “MENJADI KOMUNITAS YANG MENGAMPUNI” kita kembali diajak untuk melihat ke dalam diri kita, apakah kita sudah menjadi pengikut Kristus yang sumbut, atau masih sebagai murid Kristus yang sambat? Hanya karena kasih dan kemurahan Tuhan sajalah, kita manusia yang bercela dan penuh dosa ini dilayakkan dan diputihkan, dosa-dosa kita diampuni. Pengampunan yang sudah kita terima harusnya mendorong kita untuk menjadi manusia yang mau mengampuni orang lain.
Dalam bacaan kita hari ini, Petrus bertanya sampai berapa kali harus mengampuni? Tujuh kalikah? (Ay. 21). Jika kita bayangkan, seseorang melukai hati kita dan kita harus mengampuni sampai tujuh kali, mungkin ada rasa tidak terima karena luka yang dalam dan berulang harus diampuni. Dalam pemahaman Petruspun tujuh kali sudah menjadi angka yang besar, karena adat masa itu pengampunan hanya sampai tiga kali. Tujuh kali berarti sudah dua kali lipat dari adat jaman itu, bahkan masih ditambah satu kali. Namun ternyata tidak demikian dengan jawaban Yesus yang mengatakan 70 kali 7 kali (Ay. 22). Dengan angka yang begitu besar ini Tuhan Yesus ingin menekankan bahwa mengampuni bukan tentang berapa kali, tetapi mengampuni sebagai cara hidup pengikutNya.
Mari kita kembali melihat perumpamaan tentang mengampuni. Ketika raja mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya, ada seorang hamba yang tidak mampu membayar hutang. Awalnya raja memerintahkan untuk menjual segala kepunyaan hamba itu beserta anak isterinya untuk melunasi hutang, yang bahkan jika semua sudah terjualpun, masih banyak jumlah hutang yang belum bisa dilunasi. Namun hamba itu sambat, sujud untuk meminta waktu dan karena belas kasihan Sang Raja membebaskan dan menghapus hutangnya. Setelah keluar hamba itu bertemu dengan hamba lain yang berhutang kepadanya, hamba yang lain pun melakukan hal yang sama, dia sambat, sujud untuk meminta waktu, namun hamba yang telah dibebaskan oleh raja itu menangkap dan mencekiknya. Mendengar kejadian ini, Raja marah dan menangkap hamba itu dan menyerahkannya ke algojo.
Apa yang kemudian muncul di benak bapak/ibu/saudara setelah tadi memperhatikan sikap hamba yang telah diampuni oleh raja dalam perumpamaan tentang pengampunan? Untuk lebih jelasnya mari kita bandingkan jumlah hutang kedua hamba itu
- Hutang hamba I = 10.000 talenta
1 talenta = 6.000 dinar
1 dinar = upah 1 hari kerja = Rp. 50.000,-
10.000 talenta = 10.000 x 6.000 dinar
= 10.000 x 6.000 x Rp. 50.000,-
= Rp. 3.000.000.000.000,- (3 Triliun)
- Hutang hamba II = 100 dinar
100 dinar = 100 x Rp. 50.000,-
= Rp. 5.000.000,- (5 Juta)
Rp. 3.000.000.000.000,- (3 Triliun) VS Rp. 5.000.000,- (5 Juta)
Hamba I sudah dibebaskan dari hutang 3 triliun tetapi tidak mau membebaskan hutang temannya yang hanya 5 juta. Dia sudah dibebaskan tetapi tidak mau membebaskan. Padahal secara angka, jumlah hutang temannya tidak seberapa dibanding dengan hutangnya. Ketika ditagih hutang dia sambat, sedangkan setelah dibebaskan dia tidak sumbut.
Ketika kita memperhatikan kisah ini, ada rasa geregetan? Merasa bahwa hamba itu tidak tahu berterima kasih? Ora sumbut? Dll. Jika kita mau mengakui dengan jujur, seringkali kita bersikap seperti hamba pertama. Berulang-ulang kali kita menyakiti hati Tuhan karena belum dapat melakukan perintah Tuhan dengan baik, kita sambat, meminta pengampunan, Tuhan mengampuni. Tetapi ketika ada orang yang menyakiti hati kita, kita sering perhitungan, sekali dia menyakiti oke saya maafkan, tapi kalau dua kali? Nanti saya fikir-fikir dulu, dll. Mungkin kita pernah melakukannya. Bukankah jika demikian, kita sama dengan hamba yang pertama tadi? Kesalahan kita di hadapan Tuhan jauh lebih banyak dan Tuhan berkenan mengampuni dan melayakkan kita menjadi anakNya. Tetapi mengapa kita sulit untuk mengampuni orang lain?
Pada minggu kedua bulan katekese ini kita diajak kembali untuk melihat rangkaian ibadah kita. Dalam Tata Ibadah Minggu ada bagian Penyesalan dan pengakuan dosa, di sana menjadi kesempatan bagi kita untuk memohon pengampunan dosa dan kita mendapatkan pengampunan, membahagiakan ketika kita sambat banyaknya dosa yang kita lakukan ternyata Tuhan mengampuni. Namun bagaimana dengan kalimat “ampunilah kami, seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami” dalam Doa Bapa Kami? Kasih dan kemurahan Tuhan yang telah mengampuni kita harusnya mendorong kita untuk bersedia mengampuni orang lain. Ini wujud ‘sumbut’ kita karena telah diampuni oleh Tuhan.
Mengampuni bukan tentang hitungan berapa kali saya harus mengampuni, tetapi tentang cara hidup. Selama kita hidup, selama kita berdosa dan Tuhan mengampuni, selama itu pula kita mengampuni orang lain. Mengampuni bukan berarti kita lembek, tetapi justru menunjukkan betapa kuatnya kita untuk berani sembuh dan move on dari luka-luka hati yang pernah kita alami.
Berulang kali kita menyadari bahwa hidup kita masih belum berkenan di hadapan Tuhan, masih sering berdosa. Kita datang mengadu, sambat dan memohon pengampunan, dan kita mendapatkannya. Sekarang saatnya kita tidak hanya menjadi orang yang sambat tetapi juga menjadi orang yang sumbut. Karena sudah diampuni oleh Tuhan, mari menjadi anak Tuhan yang sumbut, mau mengampuni orang lain. Judul hidup kita bukan lagi “Nanti Kita Sambat tentang Hari Ini” tetapi menjadi “Nanti Kita Sumbut tentang Hari Ini.”
Amin.