11 Oktober 2020 – Mendengarkan Tuhan

Info Ibadah

Tanggal Ibadah 11 Oktober 2020
Pelayan Firman Pdt. Elizabet Emilia Putri, S.Si.
Bahasa Pengantar Bahasa Indonesia

Deskripsi:

Matius 22:1-14

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Saya yakin pasti saudara pernah diundang dalam pesta pernikahan. Walaupun pada awal-awal corona semua resepsi pernikahan diundur karena masih belum boleh mengadakan acara dalam jumlah masa yang banyak. Tapi sekarang sudah mulai lagi banyak orang yang mengadakan pesta pernikahan. Tentu jika mengadakan pesta pernikahan harus menaati protokol kesehatan yang ada.

Berbicara mengenai pesta pernikahan, jikalau saudara mendapatkan undangan pesta apa yang saudara persiapkan? Ada dua kemungkinan, kalau memang tidak ada acara bersamaan mungkin saudara akan berangkat dan mempersiapkan diri dengan baik misalnya dengan menggunakan pakaian yang pantas untuk menhadiri pesta pernikahan. Tetapi kalau memang ada acara lain yang bersamaan dan memang tidak bisa ditinggal, saudara tidak bisa menghadiri. Biasanya kalau ibu-ibu itu ‘titip amplop’ dengan tetangga atau saudaranya yang berangkat ke pesta pernikahan.

Pada bacaan kita hari ini Yesus juga memberikan pengajaran tentang kerajaan sorga melalui sebuah perumpamaan yaitu seperti seorang raja yang mengundang orang-orang atau tamu undangan untuk menghadiri pesta perjamuan kawin anaknya. Bayangan kita pasti para undangan akan mempersiapkan diri dengan sedemikan rupa karena mereka mendapatkan undangan istimewa dari seorang raja. Seperti tadi diawal mungkin tidak akan titip amplop ketetangganya atau saudaranya, akan berangkat sendiri dan menggunakan pakaian yang baik. Tetapi ironisnya, undangan sang raja tidak dihargai. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka bahkan tidak terlalu tertarik dengan undangan dari sang raja, bahkan ada yang menyiksa dan membunuh utusan-utusan raja. Mereka sungguh meremehkan sang raja dan utusan-utusannya. Mereka yang diundang oleh sang raja ini menyia-nyiakan kesempatan yang indah dan mereka sangat meremehkan sang raja sehingga membuat sang raja murka.

Lalu sang raja mengutus hamba/utusannya untuk mengumpulkan semua orang yang dijumpai dijalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu-tamu itu. Tetapi ketika raja masuk, ia melihat ada seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia tidak mempersiapkan dirinya dengan baik, bahkan ia datang dengan sembarangan (ayat 11-12). Artinya bahwa masih ada juga yang tidak memberikan respon yang baik atas anugerah indah yang diberikan oleh raja kepada rakyat yaitu pesta bersama sang raja. Ia pun tidak menghargai undangan sang raja. Maka sang raja pun menyingkirkannya. Artinya dalam perumpamaan ini Yesus justru menunjukkan bahwa sekalipun mereka umat pilihan Allah, tetapi mereka tidak mendengarkan Tuhan, Sang Raja yang mengundang mereka mengikuti pesta perkawinan. Mereka asyik dengan kegiatannya sendiri. Maka Sang Raja mengundang orang-orang lain yang justru tidak dekat dengan raja, walaupun pada akhirnya merekapun juga tidak mempersiapkan diri dengan baik. Yesus menyimpulkan pada ayat 14 : “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

Saudara yang terkasih,

Sesungguhnya Tuhan telah memberikan anugerah dan memanggil kita melalui undangannya yang indah di dalam kehidupan kita. Tentu yang terutama adalah anugerah keselamatan dan berkat abadi dalam pesta kerajaan sorga. Tetapi sayangnya tidak semua dapat mendengarkan panggilan Tuhan dan merespon dengan baik atas anugerah dan undangan yang indah tersebut. Banyak yang menolak bahkan tidak menghargai anugerah tersebut dengan tidak mempersiapkan diri dengan baik. Tetapi selain keselamatan dan undangan dalam pesta kerajaan sorga, tentu banyak anugerah indah lain yang Tuhan berikan di dalam kehidupan kita salah satunya adalah keluarga. Keluarga juga anugerah terindah yang perlu kita hargai. Tapi sayangnya banyak juga diantara kita yang menyia-nyiakan anugerah Tuhan tersebut. Ada yang meremehkan atau bahkan tidak merespon dengan baik, mereka tidak meresponnya dengan sepenuh hati sehingga mengecewakan Tuhan, Sang Raja yang memberikan banyak anugerah di dalam kehidupan kita.

Lalu pertanyaan reflektif untuk kita semua, apakah kita sudah mendengarkan undangan Tuhan atas anugerahnya dengan baik dan memberikan respon yang baik? Salah satunya adalah anugerah keluarga. Apakah kita sudah menghargai anugerah Tuhan melalui keluarga kita? Ataukah masih sering menyia-nyiakan keberadaan keluarga kita? Artinya kita tidak mensyukuri keberadaan keluarga kita yang Tuhan anugerahkan. Mari kembali mengingat, bagi yang sudah menikah atau berkeluarga. Awal saudara memutuskan untuk menikah dan berkeluarga, sungguh saudara telah mendengar panggilan Tuhan tersebut untuk hidup di dalam kasih, saling mengasihi dan saudara menerima panggilan tersebut. Lalu hiduplah bersama di dalam keluarga. Lalu bagaimana kondisi keluarga saudara saat ini, masih penuh dengan kasih ataukah suasana yang terjadi atau yang dibangun adalah suasana dominan dan transaksional? Semua keputusan ada ditangan kepala keluarga. Istri dan anak tidak diberikan kesempatan untuk berbicara dan mengungkapkan rasa dan pendapatnya. Pada akhirnya suasana keluarga menjadi tidak sehat. Atau relasi terjadi transaksional. Istri akan baik kalau jatah perbulannya baik, kalau nggak ya nanti dulu. Anak-anak, diminta tolong orang tuanya, mau kalau ada upahnya. Kalau nggak ada ya jangan harap minta tolong. Apakah ini tanda mendengarkan panggilan Tuhan dalam hidup berkeluarga yang penuh dengan cinta kasih? Mari saudara-saudara kita kembali berefleksi untuk senantiasa mendengarkan suara Tuhan. Mendengarkan artinya tidak hanya sekedar mendengar tetapi senantiasa menerima anugerahnya dan melakukan kehendakNya. Selamat menjadi pendengar suara Tuhan yang baik. Tuhan Yesus memberkati. Amin