STANDAR GANDA
Kamis, 9 Desember 2021
Matius 7 : 1 – 3
Setelah kita membaca ayat bacaan hari ini, pertanyaan yang sering muncul adalah : apakah kita tidak boleh menghakimi ? Apakah kita sama sekali tidak boleh menilai benar-salah, baik -jahat seseorang? Maksud Tuhan bukan berarti kita tidak usah memedulikan kesalahan orang lain dan membiarkan ia hidup dalam kesalahan. Ia juga tidak bermaksud bahwa Allah melarang adanya lembaga peradilan.
Kristus menyampaikan alasan mengapa orang tidak boleh menghakimi. Maksud Tuhan adalah Dia melarang kita menghakimi dengan standar ganda: ukuran yang lunak dan rendah untuk diri sendiri, ukuran yang keras dan tinggi untuk orang lain. Ukuran yang seseorang pakai untuk menghakimi, perlu diterapkan juga kepadanya. Jangan sampai orang bisa melihat selumbar di mata saudaranya tetapi tidak dapat melihat balok di matanya sendiri. Terlalu banyak orang yang menuntut orang lain berubah, padahal sesungguhnya mereka yang lebih perlu berubah. Secara jelas ditegaskan bahwa kita perlu adil dalam menilai diri sendiri dan orang lain.
Penggunaan standar ganda sering kita jumpai, baik dalam masyarakat luas maupun dalam kalangan gereja. Entah kita yang cenderung meringankan kesalahan diri sendiri atau kita yang memberatkan kesalahan orang lain. Hal itu tidak Tuhan perkenankan. Tuhan Yesus ingin agar kita bertindak sebagai saudara terhadap sesama kita, bukan menjadi hakim apalagi algojo. Sebagaimana kita memperlakukan orang lain, demikian Tuhan akan memperlakukan kita. Ukuran yang kita pakai kepada orang lain, akan diukurkan juga kepada kita. Tuhan ingin persekutuan orang beriman tumbuh dalam kesucian. Sikap yang diperlukan bukanlah saling menghakimi, tetapi saling mengoreksi untuk membangun bersama.
Selamat berefleksi
Tetap setia taati protokol kesehatan
Tuhan memberkati





