Warta Gereja • Renungan • Kegiatan

GKJ Rewulu
Renungan GKJ Rewulu

MENYELARASAKAN TUTUR DAN PERBUATAN

Yesaya 58:3

Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?

Datanglah seorang pasien yang mengeluhkan penyakitnya karena tak kunjung sembuh. Setelah 1 minggu pasien tersebut mendapatkan obat dari dokter, ia mengeluh karena kondisi yang dialami tak kunjung membaik. Dengan rasa kecewa pasien tersebut berkata, *“Dok, sudah 1 minggu ini saya rutin minum obat dari jenengan, tapi kok ya belum ada perkembangan ya? Hadeeeh, sirahku rasane budreg… awakku pegel linu jhe, Dok”*. Dokter itu menjawab, *“List sirikan yang sudah saya berikan ke jenengan itu, sudah dihindari belum? Ada banyak lho sirikan untuk jenengan”.* Pasien itu menjawab, *“Dok, sirikane akeh tenan e, bosen aku perihal mangan wae akeh aturane”.*

Mungkin dalam kehidupan kita, sering kita bertanya-tanya, *“ketika aku sudah melakukan tindakan A,B,C, dsb… kenapa aku tak kunjung berubah ya?”.* Kita mengakui bahwa kita rajin berpelayanan, berdoa, bahkan mulai rutin untuk berpuasa, namun belum ada perubahan apa-apa. Jalan pintas yang sering kita lakukan adalah bertanya kepada Tuhan, *“Tuhan, kenapa tidak ada perubahan yang terjadi padaku?”.* Terkadang kita masih belum bisa untuk berkaca pada pola hidup kita, yang terkadang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Sama halnya dengan Bangsa Israel, yang kurang menyadari keberadaan diri mereka dan justru memprotes kehendak Tuhan. Dengan lantang mereka berkata, *“Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?”.* Tapi apakah Allah sungguh-sungguh begitu? Pada kenyataannya, umatlah yang tidak mengindahkan kehendakNya, mereka belum dapat meninggalkan kebiasaan buruk mereka. Ketika mereka belum bisa berbelas kasih, namun justru menekan sesamanya. 

Saat ini marilah kita berkaca pada diri kita, apakah kita sudah melakukan tindakan kasih (kepada Tuhan dan sesama) secara benar, atau justru kita masih nyaman untuk membawa kebiasaan buruk kita? Marilah saat ini kita memulai hidup, mengawali suatu perubahan dengan bersedia menyelaraskan tutur kata dan perbuatan kita! Berkah Dalem, Amin 

Tinggalkan Balasan