Memikul Salib
Selasa, 19 Januari 2021
Matius 10: 38 – 39 “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”
Suatu hari Tuhan memberi tugas murid-muridNya untuk memikul salib dengan panjang 5 meter menuju ke suatu tempat, dan Tuhan menunggu mereka di tempat itu. Dengan semangat, para murid mengambil salib masing-masing dan mulai berjalan. Di perjalanan, salah satu murid merasa kelelahan dan beristirahat sejenak. Dalam istirahatnya ia mendapat ide untuk memotong salibnya agar bebannya lebih ringan dan perjalanannya lebih mudah. Diapun memotong salibnya 1 meter dan kembali berjalan menyusul teman-temannya. Iapun menyarankan teman-temannya untuk melakukan hal yang sama, tapi mereka tidak mau. Beberapa kilometer kemudian ia kembali merasakan beban salibnya berat, dan iapun kembali memotong 1 meter. Dia kembali berjalan dengan riang gembira karena saat ini beban salibnya hanya 3 meter. Dia membodoh-bodohi teman-temannya karena mereka terlihat kelelahan memikul salib sepanjang 5 meter.
Akhirnya rombongan sampai di ujung jalan dan bertemu jurang yang sangat dalam. Tuhan terlihat sudah menanti mereka di seberang jurang. Mereka kebingungan memikirkan cara untuk tetap memikul salib itu dan melewati jurang. Setelah beberapa waktu, salah satu murid mengamati lebar jurang, ternyata jurangnya tidak begitu lebar. Ia mencoba merebahkan salibnya, dan ternyata ujung salib sampai di seberang jurang. Iapun menyebrangi salib, sampai di seberang ia menarik salib itu dan membawanya menghadap Tuhan. Teman-teman yang lainpun mengikuti idenya. Hanya tinggal seorang murid yang kebingungan tidak bisa menghadap Tuhan, karena panjang salibnya hanya 3 meter. Ia sangat sedih dan menyesal atas perbuatannya.
Apakah kita merasa salib yang kita pikul terlalu berat? Apakah kita merasa kelelahan memikul salib? Salib itu bisa berwujud sakit yang tidak kunjung sembuh, keluarga yang tidak harmonis, pandemi yang tidak kunjung usai, pekerjaan yang tidak menentu, kekecewaan, sakit hati, kekuatiran, tekanan, dll. Apapun bentuknya, mari kita setia memikul salib dan terus mengikut Tuhan. Tuhan tahu batas kekuatan kita, Tuhan tidak membiarkan kita memikul salib yang melebihi batas kekuatan kita. Lihat, Tuhan sudah menunggu kita di ujung sana, karena itu setialah!
Selamat berjuang!
Tetap jaga kesehatan jiwa raga
Tuhan memberkati





