MELIHAT KE DALAM DULU
Kamis, 21 September 2023
Matius 7 : 3
Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
Ada seorang mahasiswi yang sedang sibuk menghadapi ujian semester. Ia memutuskan untuk belajar di taman seputaran kampus dengan membawa biskuit sebagai camilan. Kursi yang tersisa hanyalah kursi panjang yang di ujungnya sudah ada seorang ibu petugas kebersihan yang sedang beristirahat. Mahasiswi ini mulai membaca buku dan memakan biskuit. Ketika ia mengambil biskuit, ibu-ibu di sebelahnya juga ikut mengambil biskuit itu. Begitu seterusnya sampai hanya tersisa 1 buah biskuit. Mahasiswi itu berfikir “Berani benar ibu ini tanpa permisi makan makanan orang. Sekarang biskuitnya tinggal 1 apa iya dia juga mau mengambilnya? Tidak tahu sopan santun”. Tiba-tiba ibu itu mengambil 1 biskuit yang tersisa, membaginya menjadi 2, lalu memberikan separuh biskuit kepadanya. Dengan hati kesal, mahasiswi ini segera beres-beres dan pergi. Ketika sampai di ruang ujian, ia membuka tasnya untuk mengambil bolpoin. Dan betapa terkejutnya ia ketika ia menemukan sebungkus biskuit utuh di dalam tasnya. Berarti yang ia makan di taman tadi adalah biskuit ibu-ibu itu. Berarti yang sebenarnya tidak sopan adalah dirinya, yang memakan biskuit orang lain tanpa ijin.
Dari cerita ini kita belajar untuk introspeksi diri, melihat ke dalam diri kita sendiri dahulu. Introspeksi diri itu penting agar kita tidak cenderung menganggap bahwa diri kita selalu benar dan orang lain selalu salah. Salah satu falsafah Jawa mengatakan Aja ngaku pinter yen durung bisa nggoleki lupute awake dewe. Artinya ‘Jangan mengaku pintar apabila belum bisa mencari kesalahan diri sendiri’. Mari belajar untuk melihat ke dalam diri kita terlebih dahulu : sudahkah hidup saya berkenan di hadapan Tuhan? Amin.
Tuhan memberkati





