Diam dan Dengarlah!
Ayub 37:14
“Berilah telinga kepada semuanya itu, hai Ayub, diamlah, dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah.”
Berdiam diri memang bukan perkara mudah. Karena dengan berdiam diri sering tampak statis dan terlihat tidak berbuat apa-apa. Namun dengan berkata-kata setidaknya membuat orang merasakan diri sebagai pengendali. Jika berdiam diri terasa dikendalikan, maka berkata-kata membuat orang merasa mengendalikan keadaan.
Dalam bacaan kita saat ini merupakan nasihat Elihu kepada Ayub setelah dia memperlihatkan segala keperkasaan Allah dalam ciptaan-Nya. Perkataan Elihu mungkin terlalu keras untuk orang sekelas Ayub, yang dinyatakan TUHAN sendiri sebagai pribadi yang saleh dan takut akan TUHAN. Namun demikian, dibalik kata-kata kerasnya, agaknya dia berupaya mengingatkan Ayub akan keterbatasan manusia dan mengajaknya untuk berdiam diri dan memerhatikan keajaiban-keajaiban yang diperlihatkan oleh TUHAN.
Bagi Elihu, berdiam diri akan memampukan manusia lebih cermat memahami alam, juga TUHAN yang menciptakan semuanya itu. Berdiam diri akan membuat manusia lebih mampu mengenal TUHAN. Berdiam diri akan membuat dia tidak sibuk lagi dengan kata-katanya sendiri, dan akhirnya mendengar suara TUHAN.
Dalam keheningan hatilah, TUHAN berbicara kepada kita.
Lalu pertanyaan refleksi kita saat ini, apakah kita sudah punya waktu untuk berdiam dan mendengarkan suara TUHAN ataukah hidup kita terlalu sibuk dengan banyak hal dan persoalan sehingga tidak punya waktu untuk berdiam diri dan mendengarkan suara TUHAN.
Oleh karena itu, sediakanlah waktu untuk berdiam diri dan mendengarkan suara TUHAN dari situ kita bisa semakin mengenal dan memuliakan TUHAN!
Diamlah dan dengarkanlah TUHAN!
Tuhan Yesus memberkati. Amin.





