Bijak VS Iri Hati
Yakobus 3 : 16-17
Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.
Lebih mudah mana, menjadi orang bijak atau iri hati, tampaknya keduanya bisa sama mudahnya pun juga bisa sama sulitnya. Sebab dua hal ini dapat terbangun dari proses yang cukup Panjang, orang yang terbiasa bijak akan sulit untuk menjadi orang yang iri hati karena sudah terbiasa berpikir secara Panjang. Sedangkan orang yang sudah terbiasa iri hati justru sebaliknya, dia akan sulit untuk diminta menjadi orang bijak, sebab kedengkian, iri dan kemarahan justru lebih menguasainya.
Orang-orang Yahudi diingatkan untuk menjauhi sikap iri hati, sebab sikap ini memang berbahaya, mengapa berbahaya? Dari iri hati itu bisa meningkat menjadi dendam, dan dendam bisa memunculkan tindakan dosa yang nyata. Oleh karena itu tepat bila dikatakan iri hati adalah perbuatan dunia yang jauh dari kata berkenan di hadapan Allah. iri hari adalah bagian dari ego yang justru menjerumuskan diri kita ke dalam tindakan dosa.
Mari belajar setahap demi setahap untuk menyatakan kebijaksanaan, karena sekali lagi untuk dapat hidup dalam kebajikan Allah perlu berlatih dan berusaha sedemikian rupa. Mari bersama-sama berjuang untuk menjadi orang-orang bijak.





