Batu Penjuru, bukan Batu Sandungan
1 Petrus 2 : 6
“Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.”
Hidup sebagai orang Kristen tak pernah berhenti ketika kita sudah menerima Allah dalam hidup kita, sebab ada tanggung jawab lain yang harus kita lakukan sebagai orang Kristen, yaitu menjadi rekan sekerja Allah dan ikut menjadi pewarta Kerajaan Allah. Petrus menggunakan gambaran batu penjuru sebagai pengingat bagi kita, bahwa kita pun juga menjadi bagian penting dalam mewartakan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya.
Menjadi batu penjuru apakah mudah? Tidak! Sebab menjadi batu penjuru tidak selalu terlihat dan dirasakan keberadaannya secara langsung, namun keberadaannya penting bagi bangunan tersebut. Berbeda dengan batu sandungan, ia justru tampak dan terlihat secara langsung, tetapi justru kehadirannya memberi hambatan dan mencelakakan orang yang melewati kita. Jadi memang menjadi rekan sekerja Allah tidak selalu mudah, apa yang kita lakukan tidak selalu dihargai dan dilihat, namun percayalah bahwa apa yang kita lakukan, bila itu diberkati dan diijinkan Allah akan selalu menjadi dampak baik bagi komunitas dan diri kita sendiri. Apa yang kita lakukan akan menjadi berkat bagi orang yang membutuhkan.Menjadi batu penjuru atau batu sandungan adalah keputusan kita. Semoga kita memilih keputusan yang tepat.





