Info Ibadah
Deskripsi:
UNDUH PDF: Liturgi Ibadah Keluarga 23 Agustus 2020
Bapak/Ibu dan Saudara/I yang terkasih,
Semakin lama seseorang menjalin relasi dan komunikasi dengan yang lain, ia akan semakin mengalami kedekatan, maka orang tersebut pun semakin saling mengenal. Maka karena mengalami kedekatan dan saling mengenal, tentu banyak hal yang sudah saling diketahui atau dikenal. Tidak hanya sekedar identitas siapa dia, bisa jadi juga sudah tahu kebiasaan, kelebihan dan kekurangannya bahkan karakter orang tersebut. Hal ini bisa kita rasakan relasi kita dengan keluarga yang benar-benar dekat dengan kita bahkan juga sahabat yang sudah sangat dekat. Kedekatan pun dirasakan antara Yesus dengan para murid-Nya. Relasi mereka sangat dekat, tentu Yesus pun sangat mengenal para murid-Nya. Tidak hanya tahu siapa mereka, akan tetapi tahu kepribadian para murid-Nya. Tetapi bagaimana dengan para murid? Apakah mereka sungguh mengenal Yesus?
Konteks dalam bacaan kita saat ini adalah ketika Yesus sudah bersiap untuk pergi ke Yerusalem. Jadi sebelum Yesus mati, Ia ingin memastikan terlebih dahulu kepada para murid-muridNya apakah mereka tahu dengan jelas siapakah Yesus sebenarnya. Yesus memulai pertanyaan kepada murid-muridNya demikian : “Kata orang siapakah Anak Manusia itu?” (ayat 13). Dari pertanyaan tersebut murid-murid menjawab bahwa menurut banyak orang Anak Manusia atau Yesus adalah Yohanes Pembaptis, Nabi Elia, Nabi Yeremia atau seorang nabi. Dari jawaban tersebut Yesus tahu bahwa orang Yahudi hanya menganggap Yesus sebagai seorang nabi. Maka dari jawaban tersebut Yesus pun semakin ingin tahu apakah murid-muridNya juga memiliki pengakuan yang sama seperti yang dipahami oleh orang Yahudi. Maka Yesus bertanya kepada mereka : “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Ayat 15). Setelah mendengar pertanyaan dari Yesus, salah satu murid yaitu Simon Petrus menjawab dengan pengakuan : “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Ayat 16). Disaat murid yang lain hanya diam tidak menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh Yesus.
Jawaban Petrus ini sangat penting dan menggembirakan hati Yesus, karena para murid lah yang nantinya akan melanjutkan pekerjaan Yesus. Tentu itu tidak akan terjadi kalau para murid sendiri belum yakin kalau Yesus ini adalah Mesias. Lebih lagi yang semakin membuat Yesus senang adalah pengakuan yang disampaikan oleh Simon Petrus ini bukan karena kata orang, bukan karena ikut-ikutan suara orang lain, tetapi karena Bapa yang menyatakan itu kepadanya.
Dari pengakuan inilah yang menjadi dasar dimana murid Yesus bisa untuk melanjutkan pekerjaan-pekerjaanNya. Maka Yesus pun menyebut Simon Petrus pada ayat 18-19a “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga” Simon Petrus merupakan batu pertama dari jemaat Kristus, yang kemudian bertambah batu-batu yang lain sampai menjadi bangunan besar.
Artinya ada dua hal yang perlu kita pahami saat ini :
1. Relasi yang dekat dengan Tuhan menumbuhkan pengakuan
Sejauh ini apakah kita benar-benar sudah mengenal Tuhan kita Yesus Kristus? Kita akan bisa mengaku Ia adalah Sang Juru Selamat kalau kita benar-benar mengenal dan merasakan kasihNya di dalam hidup kita. Seringnya kita mengaku kalau kita sudah mengenal Yesus Kristus, tetapi nyatanya kita belum benar-benar mengenal Tuhan kita. Seperti para murid tadi, memang selalu bersama dengan Yesus tetapi mereka belum mampu merasakan dan mengakui bahwa Yesus inilah Sang Mesias. Contohnya, masih saja meragukan kuasa Allah, masih saja mengakui dan menyembah allah-allah lain. Akan tetapi kiranya sejauh kita menjadi anak-anak Allah kita sungguh mengenalNya. Tidak hanya sekedar identitas kita Kristen, tetapi kita sungguh tahu bahwa hanya Yesus lah yang memberikan keselamatan bagi kita dengan memiliki relasi yang dekat dengan Tuhan. Bagaimana membangun relasi yang dekat? Mulailah dari hal yang sederhana, yaitu berdoa. Hal yang mudah dilakukan, tidak perlu mengeluarkan biaya, tetapi sering dilupakan.
2. Pengakuan yang menumbuhkan tindakan
Ketika kita mengenal Yesus sebagai Juru Selamat kita dan kita mengakuinya, maka yang perlu kita lakukan adalah tidak berhenti dalam pengakuan akan tetapi melanjutkan pekerjaan-pekerjaanNya di dalam kehidupan kita. Seperti yang Yesus sampaikan kepada Simon Petrus dan para murid yang lain yaitu mengutus mereka untuk melanjutkan pekerjaan-pekerjaanNya di dalam hidup mereka supaya bangunan menjadi semakin besar. Artinya supaya Kerajaan Allah semakin besar di dalam kehidupan kita. Caranya? Hadirkan Kerajaan Allah melalu cara hidup di dalam kebenaran. Hidup dalam kebenaran yang mampu membagikan kasih dan damai sejahtera. Kasih yang dengan rela memberi dan mewujudkan damai sejahtera dengan rela berkorban. Kasih yang memberi berarti kita mau berempati dengan keadaan orang lain. Ikut merasakan dan terlibat dalam keprihatinan orang lain, maka dari situ ada wujud nyata kita berbagi kasih dengan mereka. Mewujudkan damaisejahtera dengan berkorban menurunkan ego kita. Menerima keberadaan orang lain, tidak merasa paling baik tetapi menerima dan mengutamakan orang lain.
Ini yang perlu diperjuangkan dalam pengakuan kita bahwa Yesus adalah Juru Selamat kita yang perlu diwujud nyatakan dalam tindakan kita. Yaitu menghadirkan kerajaan Allah dengan hidup dalam kebenaran yang penuh dengan kasih dan damai sejahtera. Selamat melanjutkan ibadah kita dalam hidup sehari-hari. Tuhan Yesus memberkati. Amin.